Rabu 14 Feb 2024 14:01 WIB

Buntunya Perundingan Gencatan Senjata di Gaza

Di Rafah, dua jurnalis termasuk koresponden Aljazirah menjadi target serangan.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Orang-orang memeriksa kerusakan di sekitar bangunan tempat tinggal yang dihancurkan oleh tentara Israel, di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, (9/2/2024).
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Orang-orang memeriksa kerusakan di sekitar bangunan tempat tinggal yang dihancurkan oleh tentara Israel, di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, (9/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Perundingan antara Amerika Serikat (AS), Mesir, Israel dan Qatar mengenai gencatan senjata di Gaza berakhir tanpa terobosan. Sementara seruan agar Israel tidak melanjutkan serangan ke Rafah semakin menguat. Terdapat lebih dari satu juta pengungsi yang mencari perlindungan di ujung selatan Gaza itu.

Badan informasi negara Mesir mengatakan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi bertemu dengan Direktur CIA Williams Burns dan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata, melindungi warga sipil dan mengirimkan lebih banyak bantuan ke Gaza.  

Baca Juga

Dikutip dari Aljazirah, Selasa (14/2/2024) di situsnya, badan informasi negara Mesir mengatakan para pemimpin "ingin melanjutkan konsultasi dan koordinasi" dalam isu-isu penting. Pernyataan ini menunjukkan belum ada terobosan yang dicapai. Perwakilan Israel juga hadir dalam pertemuan tersebut.

Rafah yang sebelum perang dihuni 300 ribu orang kini dipadati sekitar 1,4 juta pengungsi. Banyak tinggal di tenda-tenda dan tempat perlindungan sementara setelah Israel mendeklarasikan kota itu sebagai "zona aman" sementara mereka membombardir area utara dan tengah Gaza selama empat bulan.

 

Lembaga-lembaga kemanusiaan mengatakan tanpa rencana evakuasi warga sipil dan pengiriman bantuan kini pengungsi tidak memiliki tempat lain untuk mengungsi. "Kemana anda akan mengevakuasi orang-orang ini, karena sudah tidak ada tempat aman di seluruh Jalur Gaza, utara sudah hancur, penuh dengan ranjau-ranjau yang belum meledak, pada dasarnya tidak dapat dihuni," kata juru bicara lembaga bantuan pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA) Juliette Touma, seperti dikutip dari Aljazirah.

Warga mengatakan tank-tank kembali menembaki Rafah dua malam berturut-turut. Menimbulkan gelombang kepanikan. Puluhan orang tewas dalam serangan Israel ke Rafah pada Senin (13/2/2024).

Pada Selasa dua jurnalis termasuk koresponden Aljazirah menjadi target serangan. Jurnalis foto yang bekerja dengannya juga terluka dalam serangan udara Israel di utara Rafah. Di tengah ancaman serangan Israel ratusan keluarga mulai meninggalkan Rafah. "Saya meninggalkan al-Maghazi, datang ke Rafah dan saya di sini, kembali ke al-Maghazi," kata Nahla Jarwan merujuk pada kamp pengungsi di pesisir.

Rafah berbatasan dengan Mesir yang menegaskan tidak akan mengizinkan eksodus pengungsi di perbatasan. Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan 133 orang Palestina tewas dalam 24 jam terakhir hingga total korban tewas dalam serangan Israel sejak Oktober lalu menjadi 28.472 orang.

Serangan sebagai balasan atas serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober lalu itu juga melukai 68.146 ribu orang Palestina. Seorang pejabat Hamas mengatakan tidak ada delegasi dari kelompok tersebut yang hadir dalam pembicaraan gencatan senjata berlangsung di Mesir.

"Kami masih menunggu hasil dari pertemuan-pertemuan yang sedang berlangsung di Kairo, dan komunikasi terus berlanjut dengan para mediator," kata Hamas. Seorang pejabat Palestina mengatakan kedua belah pihak sedang mencari "formula yang dapat diterima oleh Hamas" yang hanya mungkin menandatangani kesepakatan jika Israel berkomitmen mengakhiri perangnya dan menarik pasukannya dari Jalur Gaza.

Pejabat tersebut mengatakan Hamas sudah memberitahu peserta diskusi gencatan senjata, mereka tidak mempercayai Israel untuk tidak memperpanjang perang setelah para tawanan Israel di Gaza dibebaskan. Para sandera diculika dalam serangan Hamas ke Israel selatan pada tanggal 7 Oktober. Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan prioritas mereka memulang para sandera dan memusnahkan Hamas yang berkuasa di Gaza selama 17 tahun

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement