Sabtu 23 Aug 2014 07:50 WIB

Theosofi: Warisan Penjajahan (1)

Helena Petrovna Blavatsky (kiri), pengembang gerakan Theosofi.
Foto: Wikipedia.org
Helena Petrovna Blavatsky (kiri), pengembang gerakan Theosofi.

Oleh: Susiyanto*

Di Jawa, Theosofi merekrut anggotanya dari kalangan terpelajar, bangsawan keraton, orang-orang berpengaruh, juga bangsa asing.

Banyak cara untuk mengecilkan posisi dan peran agama dalam kehidupan masyarakat dan negara. Salah satunya adalah dengan penyebaran ajaran Theosofi. Kelompok lintasagama ini dikenal dengan slogannya: “there is no religion higher that truth”.

Di Indonesia (dulu: Hindia Belanda) kelompok Theosofi ini awalnya bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereniging (Perkumpulan Theosofi Hindia Belanda). Pada 12 November 1912 Pemerintah Kolonial Belanda mengakui Theosofi sebagai rechtspersoon (badan hukum).

Sejak era penjajahan, umat Islam memandang kehadiran Theosofi di Indonesia sebagai tantangan dakwah yang serius. Bahkan, berdirinya Muhammadiyah, salah satunya sebagai respons terhadap perkembangan Theosofi yang sudah masuk ke Indonesia sejak 1768.

Theosofi kemudian menyebar di sejumlah kota di Pulau Jawa. Pada 22 November 1905 sebuah centrum Theosofi berdiri di Solo, diketuai JB Messchaert.

Theosofi mengklaim bahwa ia berada di atas kebenaran semua agama tersebut. Di satu sisi ajaran theosofi berusaha mengembangkan paham kesamaan dari semua agama dan menjalankan persaudaraan dengan mengabaikan perbedaan agama.

Theosofi memiliki kesamaan paham dengan paham Pluralisme Agama yang memandang bahwa “setiap agama merupakan jalan yang samasama sah menuju Tuhan.” Theosofi juga menganggap ajarannya lebih tinggi dari agama.

Babad Theosofi

Di Jawa Theosofi berusaha merekrut anggotanya dari kalangan terpelajar, bangsawan keraton, orang-orang berpengaruh, dan juga bangsa asing yang ada di Indonesia. Sejumlah buku berbahasa Jawa diterbitkan guna mempublikasikan ajaran Theosofi.

Umumnya buku Theosofi di era penjajahan menggunakan carakan Jawa (aksara Jawa), Serat Weddasatmaka (4 jilid), Kitab Makrifat (2 Jilid), dan Babad Theosofie. Serat Weddasatmaka dan Kitab Makri fat banyak berbicara tentang masalah ”ketuhanan” dan pencapaian ”keutamaan” sejati.

Sedangkan Babad Theosofie mengisahkan tentang awal mula berdirinya Perhimpunan Theosofi di Amerika Serikat sampai menjadi ajaran yang menyebar ke seluruh penjuru dunia.

*Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun-Bogor

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement