Oleh: Susiyanto*
Ajaran baru
Theosofi pun menawarkan ”keyakinan baru” kepada anggotanya. Penganut Islam yang bergabung dalam Perhimpunan Theosofi kurang bisa menerima ajaran tentang karma dan reinkarnasi.
Secara halus, Theosofi menanggapi keberatan orang Islam, bahwa Theosofi tidak memaksa anggotanya untuk menerima ajaran-ajaran yang Theosofi.
Tetapi, Babad Theosofie juga mengecam secara halus pihak yang menolak ajaran Theosofi. Disebutkan, “... nanging samangke kula pitaken upami boten wonten piwulang, punapa tiyang angraosaken theosofi boten mawi nyangkut bab karma tuwin tumimbal lair, kados boten saged.” (... tetapi sekarang saya bertanya jika tidak ada pelajaran, apakah manusia bisa merasakan Theosofi tanpa melibatkan bab karma dan kelahiran kembali, sepertinya tidak bisa).
Kepercayaan yang diadopsi dari Hindhu dan Budha berupa ajaran tentang karma dan reinkarnasi memang menjadi salah satu Theosofi yang khas. Kepercayaan terhadap kedua hal ini tidak dapat ditinggalkan oleh penganut ajaran Theosofi.
Padahal, ajaran tentang karma dan reinkarnasi jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam. HP Blavatsky, penggagas mula-mula Theosofi, juga menyebutkan bahwa terhadap eksistensi karma dan reinkarnasi sebagai “jiwa” theosofi.
(Lihat selengkapnya karya HP Blavatsky. The Key to Theosophy : Being a Clear Exposition, in the Form of Question and Answer, of the Ethics, Science, and Philosophy for the Study of Which the Theosophical Society has been Founded. (The Theosophical Publishing Company Limited, London – New York, tth). hal 197-223).
Untuk mengelabui kaum Muslim, di Jawa, Theosofi juga mengambil baju tasawuf. Ini bisa dilihat dalam kitab-kitab resmi ajaran Theosofi berbahasa Jawa seperti Serat Weddasatmaka dan Serat Makrifat. Kedua kitab ini berusaha mengetengahkan konsepsi Theosofi dengan meminjam sejumlah terminologi dan sistem yang berasal dari ajaran tasawuf.
Hasilnya, jelas bukan tasawuf yang mendasarkan pandangannya kepada sumber-sumber Islam berupa Alquran dan Sunnah, melainkan bersifat kontradiktif dan tidak jarang antinomis terhadap ajaran Islam itu sendiri.
*Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun-Bogor




