REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Meski dikenal sebagai ulama besar di kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah ibn Abbas tidak pernah membanggakan keilmuannya. Saat seseorang bertanya bagaimana posisi ilmunya dibandingkan dengan Ali ibn Abu Thalib, jawaban Ibnu Abbas menjadi teladan tentang kerendahan hati seorang alim.
Abdullah ibn Abbas adalah sahabat Nabi yang berasal dari suku Quraisy, keturunan Bani Hasyim. Ayahnya bernama al-Abbas ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ibn Abdu Manaf. Ibunya bernama Lubabah al-Kubra bint al-Harits ibn Hazn al-Hilaliyah. Al-Abbas adalah paman Rasulullah SAW dan kakak sepupu Khalid ibn al-Walid.
Ibnu Abbas dijuluki Habrul Ummah wa Tarjuman Alquran, tinta umat dan penerjemah Alquran. Ia juga mendapat gelar al-Bahru alias Sang Lautan karena keluasan ilmunya.
Suatu hari, Ibnu Abbas pernah ditanya, “Hai Ibnu Abbas, di manakah posisi keilmuanmu dibanding ilmu anak pamanmu (maksudnya Ali ibn Abu Thalib)?”
Ibnu Abbas menjawab, “(Ilmuku dibanding ilmu Ali) bagaikan tetes air hujan yang jatuh ke samudra.”
Sungguh tepat ucapannya itu. Ibnu Abbas benar-benar memahami kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri. Ucapannya itu menegaskan bahwa Ali ibn Abu Thalib jauh lebih berilmu dibanding dirinya. Di sisi lain, ucapannya itu menunjukkan sifat tawadhunya.
Umar ibn al-Khattab sendiri mengagumi keluasan ilmu dan pengetahuan Ibnu Abbas. Bahkan, Umar menjuluki Ibnu Abbas sebagai pemuda-sepuh (Fata al-Kuhl). Umar sering meminta pandangan Ibnu Abbas ketika menghadapi suatu masalah.
Jika Ibnu Abbas sedang membaca Alquran dan ia memahami satu perkara yang belum dipahami orang lain, ia akan berkata, “Aku membaca salah satu ayat dari Kitab Allah. Aku ingin semua orang mengerti sebagaimana aku memahaminya.”