REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Agama (Menag) sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar terpilih sebagai Ketua Grand Imam Sedunia dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Ahad (27/9/2026).
Penetapan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian konferensi yang mempertemukan para imam besar dan pemimpin agama dari berbagai negara.
IGIC 2026 diikuti sekitar 70 delegasi dari 45 negara. Forum internasional tersebut mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace” dan membahas penguatan peran masjid serta imam dalam membangun kerukunan, diplomasi agama, dan perdamaian dunia.
Terpilihnya Nasaruddin Umar dinilai memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi keagamaan internasional.
Pengalaman Indonesia dalam membangun kerukunan, dialog antaragama, serta kehidupan masyarakat yang beragam menjadi salah satu konteks yang dibawa dalam forum tersebut.
Sebelumnya, Ketua Steering Committee IGIC 2026, Irjen Pol Sabilul Alif, mengatakan konferensi tersebut dirancang sebagai forum yang mempertemukan grand imam, grand mufti, ulama, dan pemimpin agama dari berbagai negara.
Menurut dia, forum ini hendak menyampaikan pesan bahwa agama dapat menjadi kekuatan untuk membangun perdamaian dunia dan memperkuat persatuan.
“Agama bisa menjadi solusi untuk perdamaian dunia. Agama harus memperkuat persatuan, bukan justru menjadi sumber perpecahan,” ujar Sabilul.
Rangkaian IGIC 2026 telah dimulai sejak Jumat (25/9/2026). Para delegasi mengikuti shalat Jumat dan doa bersama untuk perdamaian dunia di Masjid Istiqlal.
Pada Sabtu (26/9/2026), konferensi berlanjut dengan sejumlah panel di Hotel Bidakara. Salah satu sesi membahas “Masjid Harmony and Religious Diplomacy”, sementara sesi lainnya mengangkat tema “The Role of Imam for Global Peace”. Dalam sesi tersebut, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Syaikh Mohammad A M Hussein turut menjadi pembicara.
Pembahasan juga menyentuh isu lingkungan melalui panel “Mosques and Contemporary Issues in Ecotheology”.
Hal ini menunjukkan perluasan peran imam dan masjid, bukan hanya dalam persoalan ritual keagamaan, tetapi juga dalam merespons persoalan kemanusiaan dan tantangan global.
Pada Ahad (27/9/2026, para peserta membahas sejumlah agenda strategis melalui kelompok diskusi yang mengangkat tema Masjid Harmony, Global Peace, Religious Diplomacy, serta International Grand Imam Forum.
Salah satu agenda yang dirancang dalam forum tersebut adalah pembentukan wadah internasional yang mempertemukan para imam besar dari berbagai negara.
Sebelumnya, Prof Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa diplomasi agama dapat menggunakan bahasa spiritual dan keagamaan untuk menjembatani perbedaan.
Menurut dia, agama dapat menjadi bahasa perdamaian karena pada dasarnya umat manusia memiliki kemanusiaan yang sama.
Konsep "Masjid Harmony" juga menjadi salah satu gagasan utama IGIC 2026. Masjid didorong tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban, pendidikan, ilmu pengetahuan, pelayanan sosial, kemanusiaan, dan perdamaian.
Gagasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi imam di tengah persoalan masyarakat modern.
Selain itu, para peserta membahas penyusunan "Jakarta Understanding" yang memuat rekomendasi mengenai kontribusi masjid dalam membangun kerukunan, diplomasi agama, dan perdamaian global. Forum juga diarahkan menghasilkan deklarasi serta membangun jejaring imam dunia secara berkelanjutan.
IGIC 2026 tidak berdiri sendiri. Sebelum konferensi internasional digelar di Jakarta, rangkaian Bridging Road to IGIC 2026 telah dilaksanakan di sejumlah daerah, antara lain Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Rangkaian tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas dan jejaring imam masjid di tingkat nasional.
Dalam jangka panjang, IGIC merancang roadmap 2026–2030 yang mencakup penguatan jejaring imam dunia, pertukaran imam antarnegara, pengembangan basis data imam, hingga pembentukan forum atau dewan imam besar internasional.
Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu pusat pengembangan diplomasi keagamaan tersebut.