Selasa 07 Apr 2026 14:01 WIB

Dabbah, Hewan Melata yang akan Datangi Manusia Jelang Kiamat

Banyak pendapat yang menggambarkan tentang binatang ini.

ILUSTRASI Hewan melata
Foto: pxhere
ILUSTRASI Hewan melata

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Percaya akan datangnya hari kiamat adalah salah satu rukun iman dalam ajaran Islam. Bagi kaum Muslimin, keyakinan terhadap kiamat bukan sekadar kepercayaan simbolis, melainkan bagian dari keimanan yang mutlak.

Pada hari kiamat, seluruh alam semesta mengalami kehancuran total. Setelah itu, manusia akan memulai fase baru, yakni kehidupan akhirat. Di sinilah setiap insan--mulai dari Nabi Adam AS hingga orang terakhir yang mati di bumi--akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal dan dosanya.

Baca Juga

Tak ada seorang pun yang mengetahui, kapan hari kiamat akan datang. Hanya Allah SWT yang mengetahui waktunya.

Namun, Alquran maupun hadis-hadis Nabi Muhammad SAW menyebutkan berbagai tanda yang menunjukkan kedekatan hari kiamat. Di antaranya adalah kemunculan seekor binatang aneh dari dalam bumi.

Ini disebutkan dalam Alquran surah an-Naml ayat ke-82.

وَ اِذَا وَقَعَ الۡقَوۡلُ عَلَيۡهِمۡ اَخۡرَجۡنَا لَهُمۡ دَآبَّةً مِّنَ الۡاَرۡضِ تُكَلِّمُهُمۡۙ اَنَّ النَّاسَ كَانُوۡا بِاٰيٰتِنَا لَا يُوۡقِنُوۡنَ

"Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami."

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar mengupas tafsir ayat ini secara mendalam. Menurutnya, kata dabbah yang digunakan dalam ayat tersebut memang berarti 'binatang.' Namun, akar katanya mengandung makna 'melata', 'merangkak,' atau 'beringsut-ingsut.'

Para ulama dan mufasir terdahulu telah menyampaikan berbagai gambaran mengenai bentuk hewan ini. Ada yang menyebut makhluk tersebut memiliki tinggi hingga mencapai awan dan panjang tubuhnya 60 hasta.

Sebagian lagi menggambarkannya berkaki empat, berbulu panjang, bersayap dua, dan memiliki bentuk menyerupai beberapa jenis hewan sekaligus. Namun, Buya Hamka menegaskan, penggambaran-penggambaran itu tidak bersumber dari dalil yang sahih.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement