Rabu 06 May 2026 18:09 WIB

'Mengapa Rasulullah Berjalan di Pasar?'

Allah menunjukkan kepicikan mereka yang meragukan kebenaran Nabi SAW.

Umat Islam memberi makan burung merpati dengan latar belakang Masjid Quba di Madinah, Arab Saudi. (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu
Umat Islam memberi makan burung merpati dengan latar belakang Masjid Quba di Madinah, Arab Saudi. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para rasul Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW, melakukan jual-beli di pasar. Dalam hal ini, mereka seperti layaknya manusia biasa.

Pasar terdiri atas semua pelanggan potensial yang memiliki kebutuhan dan keinginan tertentu yang sama, yang mungkin bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan itu. Dahulu, pasar merupakan tempat pembeli dan penjual berkumpul untuk mempertukarkan barang-barang mereka.

Baca Juga

Ekonom menggunakan istilah pasar untuk mengacu pada sekumpulan pembeli dan penjual yang melakukan transaksi atas produk atau kelas produk tertentu. Alhasil, muncul istilah pasar kambing, pasar sapi, pasar perumahan, pasar tenaga kerja, dan lain-lain.

Yang dimaksud dengan produk itu dapat berupa barang, jasa, atau informasi. Pelaku bisnis menggunakan istilah pasar untuk mengelompokkan pelanggan sehingga pasar dapat terdiri atas pasar konsumen, pasar komunitas dan pasar industri. Adapun pemasar memandang penjual sebagai industri dan pembeli sebagai pasar.

Alquran menyebut bahwa para rasul Allah berjalan di pasar-pasar. "Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, 'Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia'" (QS al-Furqan: 7).

Menurut Ibnu Katsir, ayat tersebut menceritakan sikap kepala batu orang-orang kafir yang mengingkari kenabian Rasulullah SAW dengan argumentasi dan alasan yang sederhana serta menertawakan. Akal dan pikiran mereka tidak bisa menerima bahwa seorang utusan Allah adalah manusia biasa seperti mereka, yakni yang memakan makanan dan berjalan masuk-keluar pasar untuk mencari nafkah.

Al-Maraghi menafsirkan ayat tersebut bahwa Allah menceritakan kaum musyrikin menyebut sifat-sifat yang menurut mereka menyebabkan Rasulullah SAW tidak dapat menjadi utusan Allah. Seakan-akan mereka berkata, "Apa yang melebihkannya (Muhammad SAW) atas kita dan membuatnya mengaku-aku kenabian, sedangkan dia makan seperti kita makan dan dia minum sebagaimana kita? Dia berjalan di pasar-pasar untuk mencari rezeki, sebagaimana kita melakukannya. Jadi, dia seperti kita juga."

Menurut mereka, seorang rasul tidak makan, tidak minum, dan tidak mencari rezeki. Seakan-akan mereka berkata, ”Mengapa tidak diberi kelebihan (kenabian) atas kita?”

Dalam menafsirkan ayat di atas, Abu Ja’far menyatakan, seakan-akan orang-orang musyrik berkata, dengan nada meledek, "Mengapa tidak dijatuhkan kepadanya (Muhammad SAW) harta dari emas dan perak, sehingga tidak perlu bersusah payah mencari kehidupan?"

Pada intinya, orang-orang kafir nan musyrik itu berkata demikian tidak lain disebabkan oleh kelemahan dan kepicikan otak. Sebab, perbedaan para rasul dengan manusia lainnya tidak terletak pada perkara-perkawa indrawi, melainkan sifat-sifat ruhaniah dan kejiwaan. Allah membuat jiwa para utusan-Nya bersih.

sumber : Hikmah Republika oleh Prof Dr M Suyanto
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement