Sabtu 05 Apr 2025 18:02 WIB

Etika Tobat, bukan Hanya Soal Penyesalan

Orang yang bertobat seyogianya punya rasa takut sekaligus harap pada Allah.

Bertobat (ilustrasi)
Foto: dok republika Thoudy Badai
Bertobat (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam hidup ini, seorang insan tentunya pernah melakukan kesalahan atau dosa. Islam menganjurkan umat agar bertobat sebelum ajal menjemput.

Salah satu etika tobat adalah memiliki perasaan takut sekaligus harapan ketika meminta ampunan kepada Allah SWT. Para ulama memperinci ketentuan tobat yang betul. Pertama, menyesali perbuatan-perbuatan yang salah atau kekeliruan yang telah dilakukan. Dalam hal ini, acuannya adalah sabda Rasulullah SAW, "Menyesali kesalahan adalah tobat" (HR Ibnu Majah).

Baca Juga

Adapun tanda dari penyesalan adalah lembutnya hati orang yang bertobat dan berderainya air mata. Untuk mendapatkan suasana batin yang sesuai, orang yang bertobat sebaiknya mengubah gaya hidupnya. Misalnya, tidak lagi berkumpul bersama kelompoknya yang masih gemar melakukan dosa. Ia dapat memulai ikut serta dalam pengajian atau meminta bimbingan kiai/ustadz. Ia pun dapat bersama-sama dengan orang-orang yang juga ingin meniti jalan kebaikan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Berkumpullah bersama orang yang bertobat karena hati mereka lembut."

Langkah kedua, yakni meninggalkan setiap perbuatan dosa di mana pun dan kapan pun. Orang yang bertobat secara sungguh-sungguh hendaknya menyadari, Allah SWT Maha Menyaksikan setiap perbuatan kita. Dari sini, seseorang akan merasa terus diawasi oleh Allah sehingga menahannya dari keinginan berbuat dosa.

Langkah ketiga, orang tersebut hendaknya berjanji untuk tidak kembali pada dosa dan kesalahan. Hal ini penting agar dia tidak jatuh pada lubang yang sama. Ini pula makna tobat yang tak sekadar ucapan istighfar, melainkan berwujud langsung dalam tindakan.

"Dan bertobatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung" (QS an-Nuur: 31).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Contoh Rasulullah

Para ulama sepakat, bertobat wajib hukumnya bagi setiap orang yang berdosa. Bahkan, Nabi Muhammad SAW tetap memohon ampun kepada Allah walaupun beliau terjaga dari kesalahan dan dijamin pula masuk ke dalam surga-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، فَإِنِّيْ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

"Wahai sekalian manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya setiap hari sebanyak 100 kali" (HR Muslim).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement