Selasa 07 Jul 2026 09:40 WIB

Kerap Dicap Sekuler, Negara Ini Ternyata Jadi Tempat Museum Islam Terbesar di Dunia

Museum ini menghadirkan narasi Asia Tengah sebagai mata rantai peradaban Islam

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Sebuah masjid di Bukhara, Uzbekistan. Islam di Asia tengah (ilustrasi)
Foto: dok wiki
Sebuah masjid di Bukhara, Uzbekistan. Islam di Asia tengah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,TASHKENT -- Selama ini banyak orang mengira pusat peradaban Islam hanya bertumpu pada kawasan Timur Tengah. Namun, sebuah museum raksasa di Uzbekistan justru berupaya mengubah cara pandang tersebut. Berdiri megah di ibu kota Tashkent, Pusat Peradaban Islam (Center of Islamic Civilization) menghadirkan narasi bahwa Asia Tengah merupakan mata rantai penting dalam perkembangan peradaban Islam dunia.

Dikutip dari thestandard, Senin (6/6/2026), museum yang dibuka pada Maret lalu itu memiliki luas lebih dari 50 ribu meter persegi dan diklaim sebagai museum Islam terbesar di dunia. Kehadirannya tidak hanya menampilkan koleksi seni Islam, tetapi juga mengisahkan perjalanan sejarah Asia Tengah selama sekitar 3.000 tahun.

Baca Juga

Pameran di museum tersebut disusun dalam tiga fase besar. Pengunjung diajak menelusuri masa pra-Islam, kemudian memasuki era Renaissance Islam Pertama pada abad ke-9 hingga ke-12, dilanjutkan Renaissance Islam Kedua pada abad ke-14 hingga ke-16, hingga berakhir pada babak "Uzbekistan Baru" di era modern yang menahbiskan diri sebagai negara sekuler. 

Museum ini menekankan bahwa Asia Tengah merupakan titik temu berbagai peradaban besar. Dari kawasan inilah pengaruh budaya Persia, Turki, dan India saling berkelindan sehingga membentuk wajah peradaban Islam sebagaimana dikenal saat ini.

Pengunjung juga diajak memahami bahwa Kekaisaran Persia pada masa lampau membentang jauh melampaui wilayah Iran modern. Sementara itu, migrasi bangsa-bangsa Turki dari kawasan barat Tiongkok menjelaskan mengapa bahasa dan budaya Turki memiliki pengaruh luas di Asia Tengah. Kini, identitas Turki mencakup sekitar 30 kelompok etnis, termasuk masyarakat Azerbaijan.

Salah satu tokoh yang mendapat sorotan utama ialah Amir Timur atau Tamerlane. Penakluk Turki-Mongol itu mendirikan Kekaisaran Timurid pada 1370 dengan Samarkand sebagai ibu kota. Warisan peradabannya kemudian diteruskan oleh keturunannya, Babur, yang mendirikan Kekaisaran Mughal di anak benua India.

Pengaruh tersebut masih dapat disaksikan hingga kini melalui arsitektur Mughal, seperti Taj Mahal, seni lukis miniatur, hingga tradisi keislaman di India. Di Aula Kehormatan museum, kisah para ilmuwan, filsuf, dan penyair besar Islam diabadikan melalui mosaik berukuran raksasa.

Museum ini juga mengajak pengunjung memahami sejarah Asia Tengah sebelum kedatangan Islam. Wilayah tersebut pernah menjadi pusat perkembangan Zoroastrianisme, sementara agama Buddha menyebar dari sana menuju Tiongkok melalui Jalur Sutra.

Berbagai artefak dipamerkan, mulai dari patung Buddha, representasi Ahura Mazda sebagai dewa tertinggi dalam Zoroastrianisme, hingga koleksi koin kuno yang memperlihatkan jejak pengaruh Helenistik setelah penaklukan Alexander Agung.

Pada bagian perkembangan Islam, museum menampilkan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang pesat setelah Islam menyebar ke Persia pada abad ketujuh. Koleksinya mencakup manuskrip-manuskrip klasik berhias lukisan miniatur, serta pencapaian para ilmuwan Muslim dalam bidang astronomi, kedokteran, kosmologi, dan aljabar.

Perjalanan ditutup di Aula Alquran yang menjadi salah satu daya tarik utama. Di bawah kubah setinggi lebih dari 60 meter, Alquran kuno abad ketujuh dipamerkan melalui pertunjukan cahaya dan musik yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman imersif bagi para pengunjung.

Saat ini, museum hanya dapat dikunjungi melalui tur berpemandu berdurasi sekitar dua jam. Biaya kunjungannya sekitar HK$200. Meski demikian, terdapat satu kekurangan yang cukup disayangkan, yakni pengunjung belum diizinkan menjelajahi museum secara mandiri setelah tur selesai sehingga waktu menikmati koleksi menjadi terbatas.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi