REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW merupakan insan yang paling mulia. Namun, kemuliaan itu tidak menjadikan beliau sosok yang "melangit." Justru, Rasulullah SAW semakin membumi dan tetap menjaga kedekatan dengan umatnya.
Lantaran kedekatan itulah, Nabi SAW terbiasa akrab dengan kaum Muslimin. Malahan, ada di antara sahabat-sahabat Nabi yang "berani" mengerjai beliau. Tentu, tujuannya untuk menghadirkan keceriaan, tanpa mengurangi rasa hormat dan cintanya terhadap sang Khatam al-anbiya.
Sosok sahabat yang dimaksud ialah Nu’aiman bin Amr. Pada suatu ketika, ia berjalan-jalan di dekat Masjid Nabawi.
Siang itu, seluruh Kota Madinah merasakan terik matahari yang amat menyengat. Sang sahabat Nabi pun merasa kepayahan.
Saat sedang berteduh tak jauh dari rumah Rasulullah SAW, Nu'aiman melihat seorang penjual madu. Pedagang itu tampak letih, tetapi sorot matanya tetap tegar. Tak menyerah untuk menjajakan dagangannya.
Nu'aiman lantas menghampirinya. Setelah mengobrol beberapa menit, terlintaslah ide dalam benaknya.
“Bukankah Rasulullah SAW sangat menyukai madu?” gumam Nu’aiman dalam hati.
Ia langsung menepuk pundak si penjual madu.
“Wahai hamba Allah! Mari kuantar engkau ke rumah Rasulullah SAW!” katanya.
Seketika, senyum terpancar dari bibir pedagang tersebut.
“Luar biasa sekali lelaki yang baik hati ini mau mengantarkanku kepada Nabi SAW. Ternyata Rasulullah ingin membeli maduku!” gumamnya.
Setelah mendekati rumah Rasulullah SAW, Nu’aiman menyuruh si penjual madu menunggu dari kejauhan. Dengan sebotol madu di tangannya, ia berdiri sembari mengetuk pintu rumah al-Musthafa.
Setelah itu, sang tuan rumah membuka pintu, dan lalu mempersilakan Nu'aiman masuk.
“Ya Rasulullah,” kata Nu’aiman, “aku tahu engkau suka madu. Karena itu, aku membawakan hadiah.”




