Rabu 20 May 2026 20:30 WIB

Rasulullah dan Ikatan Batu Pengganjal Lapar

Para sahabat terkejut melihat adanya ikatan batu pada perut Nabi SAW.

ILUSTRASI Rasulullah SAW adalah suri teladan yang paling utama
Foto: Karta/Republika
ILUSTRASI Rasulullah SAW adalah suri teladan yang paling utama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW mengimami salat isya berjamaah di masjid. Namun, selang beberapa lama jamaah dapat mendengarkan bunyi "kletak-kletik", terutama ketika Rasulullah SAW sedang bergerak untuk rukuk dan sujud.

Dalam pikiran masing-masing, jamaah cemas. Mereka takut bilamana Rasulullah SAW sedang menggigil lantaran sakit. Demikian mereka menyangka.

Baca Juga

Usai shalat, Umar bin Khattab bertanya kepada beliau, "Apakah engkau sakit, wahai kekasih Allah?"

"Tidak," jawab Nabi SAW, "aku sehat walafiat."

"Namun, mengapa tiap kali engkau menggerakkan tubuhmu untuk rukuk dan sujud, terdengar bunyi berkeretakan. Mungkin engkau sakit?" tanya Umar lagi.

"Tidak. Aku segar bugar," masih jawab Nabi.

Akan tetapi, para sahabat tetap kelihatan makin khawatir. Oleh karena itu, beliau lantas membuka jubahnya.

Tampak oleh para sahabat, Nabi SAW mengikat perutnya yang kempes dengan selempang kain yang diisi batu-batu kecil. Itu dilakukan beliau demi menahan rasa lapar.

Batu-batu itulah yang mengeluarkan bunyi "kletak-kletik" ketika Nabi SAW bergerak. Umar spontan memekik, "Ya Rasul, alangkah hinanya kami dalam pandanganmu. Apakah engkau kira jika engkau katakan lapar, kami tidak bersedia menyuguhkan makanan untukmu?"

Rasul SAW menggeleng seraya tersenyum.

"Umar," kata Nabi SAW, "aku mengetahui, kalian--para sahabat--sangat mencintaiku. Namun, di mana akan kuletakkan mukaku di hadapan Allah, apabila sebagai pemimpin justru aku membikin berat orang-orang yang kupimpin?"

Mendengar jawaban itu, seluruh jamaah hening.

"Biarlah aku lapar," ujar Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya, "supaya manusia di belakangku tidak terlalu serakah sampai-sampai menyebabkan orang lain kelaparan."

Hikmah lapar

"Perangilah nafsumu dengan rasa lapar dan rasa haus karena sesungguhnya pahala dalam hal itu seperti pahala berperang di jalan Allah. Tidak ada amal yang lebih dicintai di sisi Allah, kecuali rasa lapar dan rasa haus." Hadis Nabi Muhammad SAW itu bisa jadi terasa aneh.

Bagaimana mungkin rasa lapar dan haus bisa menjadi amal ibadah paling dicintai Allah?

Untuk memahaminya, pertama-tama, rasa lapar sesungguhnya berkaitan erat dengan nafsu manusia.

Dalam perjalanan spiritual (safar ruhaniy), nafsu kerap mengganggu dan menipu seorang salik (seseorang yang secara sadar memilih pengembaraan menuju kepada-Nya). Nafsu makan, misalnya, akan mengganggu konsentrasi dan kekhusukan seorang abid dalam beribadah. Jika seorang abid hendak bersembahyang, misalnya, sedangkan perutnya sarat dengan makanan, biasanya ia akan enggan dan malas.

Itulah mengapa Luqman berkata kepada anaknya, "Hai anakku, jika perut kenyang, akal akan tertidur, kebijaksaan akan membeku, dan anggota badan menjadi enggan melaksanakan ibadah."

Perut memang sumber penyakit. Tak saja penyakit-penyakit lahiriah seperti yang lazim dikenal dalam ilmu kedokteran, tetapi juga penyakit rohaniah seperti tamak, malas, hati yang keras, cinta dunia, dan semacamnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement