Kamis 26 Mar 2026 16:40 WIB

Kisah George dan Khalid bin Walid

Komandan Romawi ini memeluk Islam di hadapan Khalid bin Walid.

ILUSTRASI Khalid bin Walid berhasil memimpin ekspansi wilayah Islam hingga ke Irak dan Syam.
Foto: pxhere
ILUSTRASI Khalid bin Walid berhasil memimpin ekspansi wilayah Islam hingga ke Irak dan Syam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu pertempuran yang menentukan arah sejarah dalam masa Khulafaur rasyidin ialah Perang Yarmuk. Palagan ini terjadi pada Agustus 636 M atau sekira empat tahun sesudah Nabi Muhammad SAW berpulang ke rahmatullah.

Perang Yarmuk juga membuktikan kegeniusan Khalid bin Walid. Pemimpin pasukan Muslimin itu kembali menunjukkan keunggulannya dalam merancang dan menerapkan strategi di medan pertempuran. Meskipun jumlah prajurit Islam tak sampai separuhnya balatentara Bizantium, sahabat berjulukan “Pedang Allah yang Terhunus” itu dapat memberdayakan mobilitas mereka.

Baca Juga

Pasukan musuh pun acap kali tercerai-berai karena dikejar kompi-kompi Muslimin dari berbagai penjuru. Hasilnya, kemenangan diraih kubu pembela agama Allah.

Ada sebuah kisah menarik dalam konteks Perang Yarmuk. Cerita tersebut berkaitan dengan masuk Islamnya seorang petinggi militer Bizantium, George Todzira. Padahal, waktu itu pertempuran sedang berlangsung. Tentu saja, moral pasukan Kristen menjadi kaget dan mengendur dibuatnya.

Di dekat Sungai Yarmuk, kedua kubu sudah berhadap-hadapan. Namun, pemimpin masing-masing pasukan belum menyerukan tanda dimulainya pertempuran. Pasukan Muslimin bertahan di perkemahannya. Begitu pula dengan para prajurit Bizantium yang berjumlah hingga 150 ribu orang.

Dalam kondisi demikian, George Todzira selaku panglima Bizantium mengirimkan utusan kepada Khalid. Ahli strategi militer yang sukses menaklukkan Damaskus dua tahun sebelumnya itu menerima delegasi lawan dengan baik.

Bahkan, sang komandan Muslim menyetujui permintaan George untuk berbicara empat mata di sebuah lokasi netral. Abu Ubaidah lantas ditunjuknya sebagai pengganti sementara posisinya.

Akhirnya, pertemuan yang telah direncanakan berlangsung. Di titik yang telah disepakati, kedua panglima perang itu saling berhadapan. Leher tunggangan mereka bertautan. Pemandangan menggetarkan ini disaksikan dari kejauhan oleh ribuan pasukan dari masing-masing kubu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement