REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Manusia dalam hidup pasti memiliki kebutuhan. Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab At Tanwir menjelaskan tentang hikmah adanya kebutuhan manusia tersebut.
Pertama, tujuan Allah untuk menjadikan manusia memiliki rasa butuh pada makanan, minuman, pakaian, dan lainnya adalah agar manusia merasa terus menerus dalam kondisi membutuhkan. Dengan begitu alasan untuk menganggap diri sebagai tempat bersandar dan tidak butuh pada yang lain akan lenyap. Selain itu, agar manusia dan makhluk bernyawa lainnya mengenal Allah melalui rasa butuh itu. Bukankah Allah berfirman dalam surat Al Fathir ayat 15:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
yâ ayyuhan-nâsu antumul-fuqarâ'u ilallâh, wallâhu huwal-ghaniyyul-ḫamîd
Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.
Rasa butuh (fakir) pada-Nya sebagai jalan yang bisa mengantarkan hamba kepada-Nya dan ada dalam naungan-Nya. Barangkali dari ini umat memahami ungkapan berikut:
ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
man arafa nafsahu arafa rabbahu.
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan, siapa mengetahui keadaan dirinya, menyadari rasa butuh kepada Allah, mengakui kelemahannya, niscaya dia akan mengenali Allah SWT melalui keperkasaan, kekuasaan, kedermawanan, kebaikan-Nya, dan sifat-sifat lain yang sempurna. Allah mengulang-ulang faktor yang menyebabkan manusia memiliki rasa butuh dan Allah senantiasa mengingatkan kelemahan manusia dalam mencukupi kebutuhannya.
Oleh karena itu, manusia perlu memperbaiki kehidupan duniawinya dan mempersiapkan kebutuhan akhiratnya.




