REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, menyampaikan bahwa perasaan rindu Tanah Suci sepulang menunaikan ibadah haji bisa diubah menjadi energi psikologis yang konstruktif untuk mempertahankan peningkatan kondisi spiritual yang terjadi selama berhaji.
"Dari perspektif bio-neuropsikologi, tujuan utamanya bukan menghilangkan kerinduan, tetapi mengubah kerinduan menjadi energi psikologis yang konstruktif," katanya ketika dihubungi dari Jakarta pada Selasa.
Ia mengatakan bahwa otak menyukai konsistensi. Jadi, kebiasaan-kebiasaan baik yang terbangun selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci di Arab Saudi sebaiknya dilanjutkan setelah kembali ke Tanah Air.
Kebiasaan sholat wajib tepat waktu serta rutinitas membaca Alquran, berzikir, shalat sunnah, dan shalat malam selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci disarankan dipertahankan setelah pulang.
"Ini membantu otak mempertahankan 'jejak spiritual' yang sudah terbentuk," kata Efnie, PR Asosiasi Neuropsikologi Indonesia - Himpunan Psikologi Indonesia.




