Jumat 29 May 2026 09:16 WIB

Jalan Hidup Bernama Dakwah

Allah tidak pernah menyebut dakwah sebagai hobi.

Dakwah/ilustrasi
Dakwah/ilustrasi

Oleh: Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID, Tidak sedikit orang yang mengaku cinta Islam. Tapi saat diminta berkorban untuknya, banyak yang mundur pelan-pelan. Dakwah dijadikan agenda akhir pekan. Kalau ada waktu, hadir. Kalau capek, ditunda. Kalau ada urusan dunia, langsung diutamakan. Seolah-olah Islam itu proyek sampingan, bukan tujuan hidup.

Padahal Allah tidak pernah menyebut dakwah sebagai hobi. Allah menyebutnya jalan hidup para Nabi. Dakwah adalah warisan para Nabi. Lihatlah Nabi Nuh AS, 950 tahun ia berdakwah. Hujan dihina, dilempari, dicaci. Tapi ia tidak berhenti. Karena bagi Nabi Nuh AS, dakwah bukan pilihan. Itu amanah.

Baca Juga

Lihatlah Nabi Ibrahim AS. Ia diperintahkan menyembelih anaknya sendiri. Tidak ada tawar-menawar. Karena bagi Nabi Ibrahim AS, perintah Allah lebih dicintai daripada kenyamanan dirinya. Dan, lihatlah Nabi Muhammad SAW. Beliau berdakwah sampai darah mengalir di Uhud, sampai diusir dari Thaif, sampai tidur beralaskan tikar. Beliau tidak pernah berkata, “Nanti kalau longgar waktunya.” 

Allah SWT berfirman tentang mereka: 

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ قُل لَّآ أَسَۡٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ  

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)". Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.” (Q.s. Al-An’am [6]: 90).

photo
Dakwah (ilustrasi) - (Republika/Thoudy Badai)

Kalau kita mengaku pengikut mereka, lalu di mana jejak dakwah dalam hidup kita? Jangan tertipu dengan istilah “Sibuk”. Kita sering kali bilang, “Saya sibuk.” Padahal yang benar adalah: kita sibuk dengan yang kita anggap penting. Allah SWT sudah mengingatkan:

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  

“Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.s. At-Taubah [9]: 24).

Da'i sejati hidupnya diatur dakwah. Da'i sejati tidak menunggu waktu luang. Ia menciptakan waktu. Ia tidak menunggu ada yang mengajak. Ia yang memulai. Ia tidak menghitung lelah. Karena ia tahu, lelahnya hari ini adalah pahala yang dicatat besok. Allah SWT berfirman:

۞إِنَّ ٱللَّهَ ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ 

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (Q.s. At-Taubah [9]: 111).

Transaksi sudah terjadi. Pertanyaannya, masihkah kita merasa hidup ini milik kita sendiri? Saatnya memilih hidup ini singkat. Besok kita akan berdiri di hadapan Allah. Yang ditanya bukan berapa banyak uang yang kita kumpulkan. Yang ditanya: apa yang kita lakukan untuk agama ini? Maka pilihlah. Mau jadi penonton yang pintar berkomentar, atau pelaku yang lelah tapi bahagia karena berjuang? 

Dakwah tidak butuh orang yang sempurna. Dakwah butuh orang yang mau memulai, meski masih banyak kekurangan. Karena pada akhirnya, Islam tidak akan tegak karena orang yang pintar bicara. Islam akan tegak karena orang yang mau hidup dan mati untuknya. 

Jadi, tanya lagi pada diri sendiri. Kalau dakwah berhenti hari ini, apa yang akan hilang dari kita? Kalau jawabannya “tidak ada”, maka mungkin sudah saatnya kita kembali. Kembali menjadikan dakwah bukan hobi sampingan. Tapi jalan hidup yang kita.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement