REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK— Setelah penggulingan cepat Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan di Venezuela, ada keyakinan di kalangan politik di Washington, terutama di antara Partai Republik, bahwa skenario yang sama bisa terulang di Iran.
Namun, majalah Newsweek menerbitkan artikel analitis dewan redaksinya yang memperingatkan bahwa perbandingan ini menyesatkan dan berbahaya.
Mereka menyatakan Teheran sangat berbeda dari Venezuela dalam hal struktur politik dan militer serta kesiapan untuk berperang.
Meskipun Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin (23/2/2026) bahwa Ketua Gabungan Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Dan Caine, memberitahunya bahwa setiap konflik melawan Iran akan mudah diselesaikan.
Caine memperingatkan bahwa kekurangan amunisi dan kurangnya dukungan dari sekutu membuat operasi semacam itu jauh lebih berbahaya daripada operasi di Venezuela.
Pada Januari lalu, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap tiga target di Venezuela pada Sabtu dini hari dan menangkap Maduro, yang sekarang diadili di New York dengan tuduhan terorisme terkait narkoba, menurut klasifikasi Amerika Serikat.
Sementara Trump menyusun rencana untuk menggulingkan Teheran, situasi di dalam Iran membuat pengulangan apa yang disebut Newsweek sebagai "momen Maduro" jauh lebih rumit daripada yang terjadi di Caracas.
Berikut adalah alasan yang dikemukakan oleh dewan redaksi majalah tersebut untuk mendukung pandangannya dikutip oleh Aljazeera, Kamis (26/2/2026):
Lihat postingan ini di Instagram




