Rabu 03 Jun 2026 09:08 WIB

Peringatan Ekonom Moody's untuk AS: Resesi Segera Datang Jika tak Ada Kesepakatan dengan Iran

Jika Selat Hormuz masih ditutup pada akhir Juni, minyak global akan merosot.

Mark Zandi
Foto: X
Mark Zandi

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) dinilai sedang menghadapi risiko ekonomi yang serius jika konflik dengan Iran terus memicu kelangkaan dan lonjakan harga energi global. Seorang ekonom terkemuka bahkan memperingatkan bahwa guncangan pasar minyak yang berkepanjangan berpotensi besar akan menyeret ekonomi AS ke jurang resesi.

Berbicara kepada Bloomberg pada Jumat (29/5/2026) yang dikutip Al Mayadeen, Kepala Ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi, menyatakan bahwa perekonomian AS memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menghindari dampak buruk dari kenaikan harga minyak mentah dan bensin yang terus berlanjut.

Baca Juga

Menurut Zandi, pasar keuangan saat ini sangat mengharapkan adanya terobosan diplomasi dengan Iran guna meredakan tekanan pada pasar energi global, sekaligus membalikkan tren lonjakan harga minyak akhir-akhir ini.

"Kesepakatan damai itu harus terjadi dengan sangat cepat—dalam satu, dua, tiga hari ke depan, atau setidaknya pekan depan. Setelah momentum itu lewat, saya rasa kita akan menghadapi masalah yang sangat nyata," ujar Zandi terkait prospek perjanjian damai dengan Iran.

photo
Salah SPBU di Amerika Serikat. Foto illustrais. - (Carscoops)

Ancaman guncangan pasar minyak

Harga minyak mentah dunia merangkak naik menyusul kekhawatiran bahwa peningkatan ketegangan regional dapat mengganggu pasokan global. Para analis pun menyoroti Selat Hormuz, yang merupakan koridor transit krusial bagi ekspor minyak internasional.

Zandi memperingatkan bahwa tingginya biaya bahan bakar yang persisten akan mulai membebani konsumen di AS. Hal ini dapat menurunkan daya beli masyarakat dan memperlambat aktivitas ekonomi menyeluruh. Ia mengidentifikasi harga bensin yang melebihi 5 dolar AS per galon sebagai ambang batas kritis yang dapat memicu dampak ekonomi yang lebih luas.

"Kita hampir mencapai angka 5 dolar AS per galon tersebut. Saya kira angka itu sudah cukup untuk mendorong perekonomian yang sudah rapuh ini ke dalam resesi," kata Zandi menjelaskan.

Selain harga bahan bakar, Zandi juga menyoroti menyusutnya cadangan minyak AS. Berdasarkan data dari Badan Informasi Energi AS (EIA), Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS baru-baru ini berada di angka 365 juta barel, yang merupakan level terendah dalam kurun waktu sekitar dua tahun terakhir. Ia menambahkan, jika harga minyak mentah menembus angka di atas 125 dolar AS per barel, hal itu menjadi sinyal kuat bahwa risiko resesi kian nyata.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement