REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umar bin Khattab merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang masyhur dengan ketegasan dan keberaniannya. Sosok yang berjulukan al-Faruq itu juga dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan bersahaja.
Umar menunjukkan keteladanan yang luhur, baik tatkala Rasulullah SAW masih hidup maupun sesudah sang nabi wafat. Sepeninggal al-Musthafa, ia menjadi khalifah kedua, yakni meneruskan kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq.
Dalam buku Sang Legenda Umar bin Khattab karya Yahya bin Yazid Al-Hukmi Al-Faifi, diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah menyampaikan pesan kepada orang-orang yang hadir dalam sebuah pertemuan. Sang amirul mukminin berkata, “Siapa saja di antara kalian yang ingin bersahabat denganku, maka hendaklah ia memenuhi lima kriteria!”
Adapun kriteria untuk menjadi sahabat Umar bin Khattab itu dijelaskannya sendiri sebagai berikut.
"Mengarahkanku ke tujuan yang benar;
menjadi penolongku dalam berbuat kebajikan;
menyampaikan kebutuhan rakyat yang tidak bisa langsung dikatakan mereka kepada ku sebagai pemimpinnya;
tidak mau menggosip; dan
menjalankan amanah yang dariku dan rakyat."
Umar kemudian menegaskan, “Apabila kriteria-kriteria ini ada dalam diri kalian, maka aku menyambut kalian sebagai sahabat. Jika tidak, aku mohon, jangan sampai kita bersahabat dan jangan pula sekali-kali bersekutu denganku.”
Takut pada Allah, peduli pada rakyat
Ketika Umar diangkat menjadi khalifah, maka sejak itu seluruh hidupnya benar-benar dibaktikan untuk mengurusi kepentingan umat. Dalam suatu riwayat disebutkan, ia hampir tiap malam melakukan ronda, berkeliling ke pelosok-pelosok kampung. Sebab, sosok berjulukan al-Faruq ini khawatir kalau ada penduduk yang urusannya terabaikan, perutnya kelaparan, dan masih dilanda ketakutan.
Bukan lantaran ingin menggaet popularitas atau hal-hal pamrih duniawi lainnya. Ronda secara diam-diam ini dilakukannya karena Umar sendiri sangat takut akan keadilan Allah. Bagaimana kelak dirinya akan mempertanggungjawabkan kepemimpinan atas umat di hadapan-Nya. Bahkan, jangankan terhadap urusan manusia, terhadap keadaan hewan di wilayah yang dipimpinnya pun ia begitu memperhatikan. Ini sebagai konsekuensi atas pengangkatannya sebagai pemimpin.
Pernah Umar bin Khattab berkata, "Aku sangat takut kalau ada unta yang terkantuk di jalan itu akan memberatkanku di hadapan Allah nanti."
Suatu riwayat menyebutkan, pada saat Umar melakukan ronda malam, tanpa sengaja ia mendengar seorang ibu berucap dari dalam rumah: "Aduh, celakalah si Umar! Ia tidur nyenyak dengan keluarganya, sedangkan kami rakyatnya pedih menahan lapar!"
Mendengar ini, Umar sangat bersedih hati. Ia menangis. Kemudian, al-Faruq bergegas mengambil makanan dari Baitul Mal dan dipikulnya sendiri makanan itu ke rumah si ibu.
Ketika pengawalnya menawarkan untuk membantunya, Umar berkata, "Engkah tidak akan bisa memikul dosaku di akhirat kelak."
Sesampainya di rumah penduduk itu, Umar sendiri yang memasak bahan makanan yang baru saja dipikulnya. Si ibu keheranan, mengapa ada orang asing yang malam-malam repot membantunya?
Setelah ibu dan anak-anaknya ini makan hingga kenyang, barulah Umar lega. Tidak jadi soal baginya, apakah rakyat ini sadar bahwa yang sudah repot-repot membantu mereka ini ternyata Umar atau bukan.
Begitulah performa pemimpin yang sungguh-sungguh meneladan Rasulullah SAW.




