Selasa 20 Jan 2026 13:20 WIB

Dari Mesir, Menag Nasaruddin Berpesan tentang Ekoteologi Hingga Peran Agama di Era AI

Dalam Islam, bumi bukan milik manusia, tetapi titipan Ilahi.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat diwawancarai Republika di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Foto: Republika/Prayogi
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat diwawancarai Republika di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (11/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO —Menteri Agama RI Prof KH Nasaruddin Umar menyampaikan tentang ekotelogi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) pada konferensi internasional yang digelar Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.

Konferensi ini dihadiri Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof Usamah Al-Sayyid Al-Azhari. Hadir juga, para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. Ikut mendampingi Menteri Agama, Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi dan Tenaga Ahli Menag Bunyamin Yafid.

Baca Juga

Dalam konferensi ini, Nasaruddin membedah makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam. Menurut dia, tanggung jawab manusia bukan sekadar sarana untuk mencari penghidupan, melainkan berdimensi moral, amanah sosial, dan  kesadaran tentang pentingnya memakmurkan bumi.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

“Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” ujar Nasaruddin dalam siaran persnya, Selasa (20/1/2026). 

Dalam Islam, kata Nasaruddin, bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. Karena itu, upaya pemakmuran bumi tidak akan sempurna tanpa menjaga keseimbangannya. Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban.

Di samping itu, Nasaruddin berpandangan bahwa tantangan yang dihadapi profesi pada era kecerdasan buatan (AI) bukan terletak pada kemajuan algoritma, tetapi pada penjagaan sisi kemanusiaan manusia.  Menurut dia, dunia tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, melainkan profesi yang beretika. Tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga nurani yang hidup. 

"Dari sini, peran agama hari ini adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja/profesi dalam dunia yang bergerak cepat,"ujar dia.

photo
AI Search (ilustrasi). Munculnya AI Search atau pencarian berbasis kecerdasan buatan telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi, dari yang tadinya eksplorasi manual menjadi penerimaan jawaban instan yang sudah terkurasi secara kontekstual. - (Dok. Freepik)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement