Rabu 21 Feb 2024 22:04 WIB

Presidium MER-C: Jangan Lupakan Gaza Hanya karena Hiruk Pikuk Pemilu  

MER-C dorong Indonesia dukung RS lapangan di Rafah.

Rep: Muhyiddin / Red: Nashih Nashrullah
 Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr Sarbini Abdul (kanan) saat melakukan konferensi pers terkait runtuhnya sistem kesehatan Gaza di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2024).
Foto: Republiika/Muhyiddin
Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr Sarbini Abdul (kanan) saat melakukan konferensi pers terkait runtuhnya sistem kesehatan Gaza di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr Sarbini Abdul mengingatkan kepada masyarakat Indonesia yang saat ini disibukkan dengan Pemilihan Umum (Pemilu) untuk tidak melupakan rakyat Gaza yang sedang menderita karena serangan-serangan tentara Israel. 

"Jangan sampai karena pemilu ini melupakan suadara-saudara kita di Gaza," ujar Sarbini saat konferensi pers terkait runtuhnya sistem kesehatan Gaza di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2024).

Baca Juga

Menurut dia, saat ini kondisi di Gaza semakin memprihatinkan. Sistem kesehatan yang ada di Gaza semakin lumpuh. Hanya beberapa rumah sakit yang bisa bertahan di tengah gempuran Israel. Bahkan, menurut dia, salah satu rumah sakit yang ada di Gaza Selatan, RS Al Nasser kini telah diduduki dan dijadikan markas oleh tentara Israel. 

"Memang wajarlah ini gawe lima tahunan, tapi jangan melupakanlah Palestina. Karena itu, minimal dengan ini kita bisa mengingatkan bersama," ucap Sarbini. 

Di masa Pemilu ini, menurut dia, bantuan kemanusiaan dari Indonesia ke Gaza masih terus berjalan. Namun, menurut dia, saat ini yang paling dibutuhkan warga Gaza sebenarnya adalah rumah sakit lapangan. 

Karena itu, dia pun mendorong kepada Pemerintah Indonesia untuk bisa membangunkan rumah sakit lapangan itu di daerah Rafah, sehingga jaraknya tidak terlalu jauh dengan Gaza. Menurut dia, Kemenkes, TNI dan pihak terkait lainnya bisa berkolaborasi untuk membangun itu. 

"Jadi, yang kita harap itu di sana rumah sakit lapangan. Di Rafah itu dekat. Bisa berkolaborasi antara Kemenkes, TNI, kayak di Iran dulu 2004 saat gempa," kata Sarbini. 

Untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang lebih parah di Gaza, tambah dia, Israel dan Hamas harus melakukan genjatan senajata secara permanen. Selain itu, kata dia, Israel juga harus membuka perbatasan Rafah antara Rafah dan Mesir. 

"Karena itu Amerika harus tegas lah. Kalau mereka tidak setuju dengan serangan ini, ya, dia harus menekan Israel. Sebenarnya tentara Israel juga sudah lelah itu, tapi karena politik yang maksa itu," ujar Sarbini. 

melaporkan informasi terbaru terkait perang di Gaza yang sudah berlangsung selama 138 hari. Menurut dia, baru-baru ini sebuah rumah sakit terbesar di Gaza Selatan kembali diduduki oleh Israel, yakni Rumah Sakit Al Nasser.

Menurut dia, rumah sakit ini menampung pasien-pasien dari Gaza Utara dan Gaza Tengah, sehingga menjadi andalan.  

"Tiga hari yang lalu rumah sakit Al Nasser diduduki Israel, rumah sakkt andalan di Gaza Selatan telah diduduki Israel. Dan rumah sakit ini mendapatkan stigma sama persis yang dilakukan Israel terhadap Rumah Sakit Indonesia," ujar Sarbini. 

Baca juga: 5 Kunci Agar Rezeki yang Diperoleh Berkah di Dunia Menurut Alquran dan Hadits

Seperti halnya stigma yang disematkan terhadap RS Indonesia, menurut dia, RS Al Nasser juga dituduh oleh Israel sebagai tempat penyimpanan senjata dan para medisnya dituduh sebagai orang-orang Hamas. 

"Rumah sakit andalan itu sekarang kolaps dan jadi markas IDF. Bagi kita ini sangat memprihatinkan, dan bagi Palestina ini sangat mengganggu dan sangat menghancurkan kemanusiaan yang ada di Gaza," ucap Sarbini. 

Dia menjelaskan, fasilitas kesehatan yang ada di Gaza sendiri saat ini tinggal 10 persen. Di Gaza Selatan sendiri tinggal satu sampai tiga rumah sakit saja. Dengan sedikitnya rumah sakit dan dengan operasional ala kadarnya, kata Sarbini, maka akan menjadi suatu ledakan kemanusiaan kalau tidak segera diatasi, terutama oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). 

photo
BUKTI GENOSIDA ISRAEL - (Republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement