Rabu 21 Feb 2024 14:06 WIB

Zionis Israel Selalu Sebut Dirinya Korban Terorisme, Fakta Sejarah Ini Membantahnya

Kebrutalan Israel terhadap warga Palestina nodai sejarah

Warga Palestina memeriksa puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Kamis, (26/10/2023).
Foto: AP Photo/Mohammed Dahman
Warga Palestina memeriksa puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Kamis, (26/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Zionis Israel mengklaim negara meraka sebagai korban terorisme, sebagaimana ditulis banyak media massa Barat.  

Padahal, menurut Prof Edward S Herman, guru besar Pennsylvania University,  tidak diragukan lagi, negara Yahudi ini telah melakukan berbagai aksi terorisme pada level negara. Terorisme Israel di Timur Tengah, tulis Adian, sebenarnya sangat telanjang. 

Baca Juga

Salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di wilayah konflik ini adalah yang berlangsung di Deir Yassin, 9 April 1948. Deir Yassin merupakan wilayah yang menurut resolusi PBB dinyatakan sebagai zona internasional karena posisinya yang termasuk dalam wilayah Yerusalem.

Dalam persitiwa Deir Yassin, terjadi pembantaian besar-besaran, yang menelan korban 254 orang, yang sebagian besar warga sipil, wanita, dan anak-anak serta orang tua.

 

Pembantaian ini dilakukan pasukan Irgun Zvai Leumi yang dipimpin Menachem Begin. Dalam bukunya, The Revolt, Begin menulis bahwa seandainya tidak ada peristiwa tersebut (Deir Yassin), tentu tidak akan pernah berdiri negara Israel. 

Ariel Sharon, yang pernah menjabat sebagai PM Israel, juga dikenal sebagai teroris sejati. Dia dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam tragedi Sabra-Shatila yang menewaskan 2000 lebih pengungsi Palestina.

Saat menjabat sebagai menteri pertahanan Israel pada 1982, Sharon mengerahkan 90 ribu tentara Israel ke Lebanon, yang didukung 1200 truk pasukan, 1300 tank, dan 634 pesawat tempur. Dengan seluruh kekuatan tersebut, hanya dalam waktu seminggu, 200 ribu rakyat Lebanon kehilangan tempat tinggal dan sekitar 20 ribu orang terluka dan terbunuh.

Pada  1953, Sharon membentuk satuan khusus 101 yang para anggotanya dijuluki sebagai setan, karena sangat biadab dalam melakukan pembantaian. Pada 14 Oktober 1953, misalnya, pasukan Sharon itu melakukan pembumihangusan Desa Kibya yang menewaskan 156 warga Palestina dan menghancurkan 56 rumah dan masjid.

Baca juga: Yahudi Termasuk Kaum yang Dimurkai Allah SWT, 3 Buktinya Disebutkan dalam Alquran

 

 

Pada 1956, saat menjabat sebagai komandan jalur Matla perbatasan Israel dan Gurun Sinai Sharon berhasil menangkap 300 tentara Mesir. Lalu, para tawanan itu diperintahkan bertiarap dan dilindas dengan tank.

Deklarasi Balfour (1948) menyebabkan wilayah Palestina terbagi tiga. Pertama, negara Yahudi mencakup 57 persen dari total wilayah Palestina dan meliputi hampir seluruh wilayah yang subur, dengan perimbangan penduduk 498 ribu Yahudi dan 497.000 Arab. 

Kedua, Negara Arab Palestina mencakup 42 persen dari total wilayah Palestina dan hampir seluruh wilayahnya tandus dan berbukit-bukit. Perimbangannya, 10 ribu Yahudi dan 725 ribu Arab.

 

sumber : Harian Republik
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement