Jumat 08 Sep 2023 17:40 WIB

Perdana Menteri Malaysia Desak Dunia Sudahi Kebiadaban di Palestina

Malaysia dan negara Asia Tenggara mendesak dunia mendukung Palestina.

Rep: Mabruroh/ Red: Erdy Nasrul
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim
Foto: EPA-EFE/YASUYOSHI CHIBA
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, pada hari Kamis (7/9/2023) blak-blakan mendesak dan meminta komunitas internasional untuk menghindari kebingungan dan diskriminasi dalam menangani konflik dan penderitaan kemanusiaan di Palestina.

"Segala bentuk rasisme, Islamofobia, dan xenofobia tidak dapat diterima dan harus dikutuk sekuat mungkin," ujar Anwar Ibrahim saat berpidato di di KTT Asia Timur di Jakarta, dilansir dari Middle East Monitor, Jumat (8/9/2023).

Baca Juga

Perdana Menteri Malaysia berada di Indonesia untuk menghadiri pertemuan puncak tahunan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Mengenai Palestina, Anwar, dan para pemimpin ASEAN menyatakan keprihatinan atas perkembangan di Timur Tengah dan menegaskan kembali perlunya solusi yang komprehensif, adil dan berkelanjutan terhadap krisis ini guna mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan

"Kami mendukung penuh hak-hak sah rakyat Palestina atas Negara Palestina yang merdeka dengan terwujudnya dua negara, Palestina dan Israel, hidup berdampingan secara damai dan aman berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," demikian bunyi pernyataan ASEAN.

Kemudian, Anwar lantas bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, untuk membahas masalah Palestina dan Myanmar, menurut pernyataan di akun X-nya, yang sebelumnya bernama Twitter.

Anwar menegaskan kembali komitmen Malaysia untuk bekerja sama erat dengan PBB dan ASEAN, terutama dalam upaya mencapai penyelesaian damai atas krisis politik Myanmar.

Mengekspresikan “kekecewaannya” terhadap tidak adanya kemajuan dalam implementasi Konsensus 5 Poin ASEAN oleh otoritas Myanmar, Anwar mengatakan: “Saya juga menyuarakan keprihatinan saya bahwa krisis di Myanmar telah membuka peluang bagi sindikat kriminal untuk mengintensifkan aktivitas mereka.”

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement