Ahad 12 Feb 2023 12:07 WIB

Manusia adalah Budak Atas Keinginan Duniawinya, Ini Penjelasan Syekh Ibnu Athaillah 

Keinginan duniawi yang rakus telah memenjarakan manusia laksana budak

Rep: Fuji E Permana / Red: Nashih Nashrullah
Berdoa dijauhkan dari keinginan duniawi yang tamak. Ilustrasi. Keinginan duniawi yang rakus telah memenjarakan manusia laksana budak
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Berdoa dijauhkan dari keinginan duniawi yang tamak. Ilustrasi. Keinginan duniawi yang rakus telah memenjarakan manusia laksana budak

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari menyampaikan bahwa manusia adalah budak dari sesuatu yang dia inginkan. Untuk itu, seorang hamba Allah SWT diingatkan agar jangan tamak terhadap sesuatu agar tidak menjadi budak dari sesuatu yang diinginkannya. 

 أنْتَ حُرٌّ مِمَّا أنْتَ عَنْهُ آيِسٌ، وَعَبْدٌ لِمَا أنْتَ لَهُ طَامِعٌ "Kamu merdeka dari sesuatu yang kamu inginkan, tetapi juga budak dari sesuatu yang kamu inginkan." (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam)

Baca Juga

Ketika kamu tidak menginginkan sesuatu, maka kamu merdeka. Kamu tidak dikendalikan oleh rasa tamak untuk mendapatkannya. 

Jangan tamak untuk mendapatkan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain. Allah SWT telah memberikan rezeki-Nya kepada para hamba-Nya sesuai dengan kebutuhan mereka. 

 

Jika kebutuhan seorang hamba sedikit maka Dia akan memberikannya sedikit. Jika kebutuhannya banyak maka Dia akan memberikannya banyak. 

Rezeki itu sudah dijamin oleh Allah SWT dan kehidupan kamu tidak akan pernah disia-siakan. Jangan tamak terhadap materi, tetapi tamaklah dengan ridha-Nya. 

Jika kamu tamak kepada harta orang lain atau berkeinginan untuk mendapatkannya, maka pada hakikatnya kamu adalah budak barang itu. 

Kamu dipaksa bekerja siang dan malam untuk mendapatkannya. Bahkan, terkadang kamu rela meninggalkan kewajiban beribadah kepada-Nya demi memenuhi nafsu duniawi. Ini benar-benar sebuah tindakan yang jauh dari tuntunan-Nya. 

Hal ini dijelaskan Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam dengan penjelasan tambahan oleh penyusun syarah dan penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati Lc dalam buku Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya yang diterbitkan penerbit Noktah tahun 2017. 

Baca juga: 4 Sosok Wanita yang Bisa Mengantarkan Seorang Mukmin ke Surga, Siapa Saja?  

Terjemah kitab Al-Hikam oleh Ustaz Bahreisy menambah penjelasan perkataan Syekh Athaillah. 

Dia mengatakan, jika tidak ada keinginan palsu, pasti orang-orang akan bebas merdeka. Mereka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yang tidak berarti atau tidak berharga. 

Kisah ini menjadi contoh ketamakan dapat mencelakakan. Seekor burung elang terbang di langit tinggi. 

Siapapun akan sulit menangkapnya. Tapi elang itu melihat daging di tanah yang telah dipasang perangkap. 

Akhirnya elang itu terjerat perangkap, selanjutnya sang elang menjadi bahan mainan anak-anak.    

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement