Rabu 23 Mar 2022 13:17 WIB

Alquran dan Hadist Fondasi untuk Membangun Kehidupan

Alquran dan hadits adalah sumber petunjuk.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Alquran dan Hadist Pondasi Untuk Membangun Kehidupan. Foto: Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin mengatakan, pernyataan Menteri Agama (Menag) harus dilihat secara utuh.
Foto: Bimas Islam Kemenag
Alquran dan Hadist Pondasi Untuk Membangun Kehidupan. Foto: Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin mengatakan, pernyataan Menteri Agama (Menag) harus dilihat secara utuh.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag), Prof Kamaruddin Amin, mengatakan, Alquran dan hadits adalah pondasi untuk membangun kehidupan beragama bagi umat Islam dari masa ke masa. Sebagaimana yang diyakini umat Islam, Alquran dan hadits adalah sumber petunjuk dan solusi dalam kehidupan umat manusia.

"Spirit yang diketengahkan Alquran dan hadits adalah semangat persatuan, persaudaraan, perdamaian, menegakkan keadilan dan kebenaran kepada seluruh umat manusia," kata Prof Kamaruddin saat menyampaikan pidato pembukaan Musabaqah Hafalan Alquran dan Al-Hadits (MHQH) Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su'ud Tingkat Nasional ke-14 Tahun 2022 di Hotel Millenium Jakarta, Selasa (22/3/2022).

Baca Juga

Ia mengatakan, salah satu peran strategis yang perlu dilakukan secara optimal oleh para ulama dan pemimpin umat adalah mendekatkan sekaligus memberikan pemahaman yang baik umat Islam terhadap Alquran dan hadits. Alquran dan hadits memiliki posisi yang penting dan mulia dalam kehidupan umat Islam.

Alquran dan hadits mengajarkan prinsip-prinsip dan tata aturan kehidupan yang harus dijalankan oleh umatnya, tidak hanya terkait dengan tata hubungan manusia dengan Rabb-nya (hablun minallah) tetapi juga tata aturan dalam kehidupan dengan sesama manusia (hablum minannas).

 

"Musabaqah Hafalan Alquran dan Al-Hadits Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Suud merupakan peristiwa yang bermakna bagi negara dan bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam," ujar Prof Kamaruddin.

Ia mengatakan, MHQH Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su'ud telah memberikan dampak terhadap meningkatnya semangat umat Muslim Indonesia untuk menghafal Alquran dan hadits. MHQH juga menjadi sarana mempererat persatuan dan kesatuan bangsa serta memperkokoh jalinan persahabatan kedua negara.

MHQH Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Suud ke-14 ini merupakan salah satu media atau sarana untuk menyuburkan syiar Islam yang berintikan syiar kedamaian yang tidak membedakan suku, bangsa maupun golongan agama. Patut bersyukur animo masyarakat Muslim Indonesia begitu tinggi dalam mengikuti kegiatan MHQH ini.

"Tercatat sebanyak 1.124 orang peserta yang mendaftarkan diri dari unsur Pondok Pesantren, LPTQ, perguruan tinggi dan lembaga Islam lain. Ini menunjukkan semangat dan jumlah para hafidz dan muhaddits semakin banyak dan tersebar di seluruh pelosok negeri ini," ujarnya.

Prof Kamaruddin berharap naiknya angka partisipasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan MHQH dibarengi dengan semakin meningkatnya perhatian umat Islam, terutama generasi muda Muslim untuk tekun membaca, mempelajari dan mengamalkan Alquran dan Al-Hadits. Serta menguasai ilmu-ilmu keagamaan yang berkaitan dengan Alquran dan hadits.

"Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerjasama yang sudah memasuki perhelatan yang ke-14 dalam penyelenggaraan MHQH ini. Semoga kerjasama ini akan tetap terjalin dan dapat ditingkatkan pada bidang yang lain yang dapat mempererat hubungan antara kedua negara serta memberikan kontribusi terhadap pemahaman keagamaan yang baik kepada masyarakat Muslim Indonesia," ujarnya.

 

Dirjen Bimas Islam Kemenag ini berpesan kepada seluruh peserta untuk benar-benar serius dan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Para peserta MHQH semua adalah orang yang beruntung dan terpilih dari sekian banyak para calon peserta yang mengikuti kegiatan ini.  

"Saya juga tidak lupa untuk selalu mengingatkan untuk menjaga kesehatan, menjaga protokol kesehatan selama kegiatan ini berlangsung sehingga kita semua dapat melaksanakan kegiatan baik ini sampai dengan akhir dan kembali ke daerah masing-masing dalam keadaan sehat," kata Prof Kamaruddin.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement