Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Pemimpin yang Menangis karena Ingat Mati

Kamis 14 Mar 2019 09:48 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Gurun

Gurun

Foto: tangkapan layar Reuters/Zohra Bensemra
Umar bin Abdul Aziz selalu bersikap 'wara`'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keimanan yang kuat kepada Allah SWT akan menyebabkan hati mudah bergetar. Sebab, adanya kesadaran bahwa manusia tidak berdaya bahkan terhadap nasibnya sendiri. Hanya Allah SWT Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Termasuk dalam hal kematian. Akhir hidup setiap insan tidak dapat diketahui secara pasti. Satu-satunya yang pasti hanyalah bahwa semua yang bernyawa akan merasakan maut.

Baca Juga

Di antara para pemimpin yang dikenang sejarah umat Islam adalah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz. Pernah suatu ketika, raja dari Dinasti Umayyah itu mengadakan majelis ilmu di istananya.

Dia memang terkenal mencintai ilmu-ilmu agama. Di bawah kepemimpinannya, marak aktivitas pengumpulan hadits-hadits Nabi SAW dari pelbagai penjuru. Bahkan, dia sering mendukung kegiatan demikian, baik sebagai penyandang dana maupun penyokong institusi.

Dalam majelis itu, seorang ulama kemudian berceramah yang intinya mengingatkan khalayak tentang dzikru al-maut (mengingat mati). Sesudah sang alim selesai memaparkan uraiannya, 'Umar bin 'Abdul 'Aziz pun berlinang air mata.

Hatinya tersentuh akan kata-kata nasihat ulama tersebut tentang kematian. Dia merasa, masih banyak amal perbuatannya yang sia-sia, sehingga bekalnya menuju negeri akhirat masih belum seberapa.

Banyak buku-buku sejarah mengungkapkan, tema mengingat mati memang menyentuh hati, baik generasi sahabat maupun tabiin yang datang sesudahnya.

Pernah suatu ketika, sahabat Rasulullah SAW Salman Al Farisi berkata, "Tiga hal yang membuatku heran hingga membuatku tertawa:

Pertama, orang yang mengangankan dunia, padahal kematian sedang memburunya. Kedua, orang yang lalai, padahal dia tidak pernah dilupakan-Nya. Ketiga, orang yang tertawa terbahak-bahak, sedangkan ia tidak mengetahui, apakah ia membuat murka Tuhannya.

Adapun tiga perkara yang membuatku bersedih hati. Pertama, perpisahanku dengan sang kekasih--Nabi Muhammad SAW. Kedua, dahsyatnya Hari Kiamat. Ketiga, berdiri di hadapan-Nya, sedangkan aku tidak tahu, apakah aku akan dimasukkan ke dalam surga atau neraka."

Patut pula disimak kesaksian Umar bin Khaththab. Suatu hari, Umar bersama-sama dengan 10 orang. Mereka lantas menemui Rasulullah SAW.

Kemudian, salah seorang bertanya kepada beliau, "Siapakah orang yang paling cerdas dan mulia, wahai Rasulullah?"

"Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang yang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat," jawab Nabi SAW.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA