REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hujan masih menyisakan bekas di tanah-tanah Aceh Barat ketika sebuah iring-iringan relawan tiba membawa bungkusan sederhana. Bukan sembako, bukan pakaian, melainkan mushaf Alquran. Bagi sebagian orang, mungkin terasa ganjil: di tengah reruntuhan dan lumpur banjir bandang, mengapa bukan nasi atau selimut yang lebih dulu diantar? Namun bagi mereka yang pernah kehilangan segalanya, termasuk kitab suci yang biasa mereka sentuh setiap fajar, jawaban itu terasa sangat gamblang.
Ramadhan tahun ini hadir di atas luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Organisasi masyarakat Macan Asia mencatat ada 350 paket Alquran yang telah dibagikan kepada korban banjir bandang di sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Barat. Ketua DPD Ormas Macan Asia setempat, Ramli MS, mengatakan angka itu bukan titik akhir, melainkan titik awal dari sebuah komitmen yang akan terus diperpanjang.
"Insyaa Allah kita upayakan terus bertambah ke depan," ujarnya.
Yang tersapu air bukan hanya perabotan dan dinding rumah. Banyak warga kehilangan mushaf yang menemani ibadah harian mereka selama bertahun-tahun, hanyut bersama arus, atau basah hingga tak bisa lagi dibaca. Kehilangan itu, kata Ramli, adalah kehilangan yang berbeda bobotnya: bukan sekadar kehilangan benda, melainkan kehilangan pegangan.
Di sinilah Ramadhan mempertemukan dua kebutuhan manusia yang acap kali dipisahkan secara artifisial, kebutuhan lahir dan kebutuhan batin. Dalam situasi bencana, keduanya sama-sama mendesak.
"Alquran adalah sumber kekuatan dan hiburan bagi umat Islam. Siapa yang membaca dan mengamalkannya, maka dapat memberikan ketenangan dan harapan baru," kata Ramli, dengan keyakinan yang tidak terdengar seperti slogan, melainkan seperti kesaksian.
Jauh di barat Jawa, di sebuah masjid di Kelurahan Plawad, Karawang Timur, malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu-lampu masjid menerangi wajah-wajah yang datang bukan hanya untuk salat, tetapi juga untuk bertemu, antara pemimpin daerah dan warganya, dalam ruang yang paling setara: rumah Tuhan.
Bupati Karawang Aep Syaepuloh menutup rangkaian Tarawih Keliling Ramadhan, sebuah program Safari Ramadhan yang telah menjangkau 10 kecamatan selama sebulan penuh, tepat pada malam peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah. Kecamatan Karawang Timur menjadi titik kesepuluh sekaligus penutup dari perjalanan panjang itu.
"Alhamdulillah, kita berada di titik kesepuluh," ucapnya, dengan nada yang terdengar seperti syukur yang tulus, bukan sekadar laporan seremonial.
Tarawih Keliling bukan sekadar ibadah bersama yang berpindah tempat. Di setiap titik, ia menjelma menjadi ruang terbuka: ada bazar UMKM yang menggeliatkan ekonomi kecil, ada dialog langsung antara warga dan pemerintah, ada tausiah yang menghangatkan, dan ada penyaluran insentif kepada para guru ngaji, sosok-sosok yang kerap bekerja dalam sunyi dan kurang perhatian. Program ini, dalam diam, sedang merajut kembali apa yang sering kali terputus antara institusi negara dan denyut kehidupan rakyat biasa.