Kamis 17 Nov 2016 21:00 WIB

Muslim Angola tak Berhenti Berjuang untuk Pengakuan

Rep: mgrol86/ Red: Agung Sasongko
Muslim Angola.
Foto: wimklerkx.nl
Muslim Angola.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masuknya Portugis ke Angola memiliki dampak. Kristen menjadi agama dominan di sana. Sementara, Islam jadi agama minoritas.

Mereka yang memeluk agama Islam adalah para imigran dari Afrika Barat dan mereka yang memiliki keturunan Lebanon.

Kebanyakan menganut Islam Sunni. Jumlah umat Islam sangat sedikit, hanya sekitar satu persen dari populasi. Karena keragamannya, tidak banyak komunitas Muslim yang terbentuk di negara yang baru merdeka pada 1975.

Umat Islam di sini diwadahi dalam Dewan Agung Muslim Angola yang berada di Luanda. Pada 2011, menurut Komunitas Islam Angola atau Comunidade Islâmica de Angola (COIA), ada lebih dari 80 masjid yang melayani sekitar 500 ribu Muslim. Jumlah ini diyakini terus bertambah.

Angola adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak mengakui Islam. Pada Februari 2006, pemerintah menutup tiga masjid karena dinilai me lakukan pelayanan yang mengganggu ketertiban umum karena menghambat arus lalu lintas.

Namun, para ulama lokal bersama Institut Urusan Agama Nasional (INAR) yang berada di bawah Kementerian Hukum dan Budaya melakukan negosiasi dengan pemerintah. Hasilnya, semua masjid kembali dibuka pada Desember 2006.

Setiap tahun, jumlah Muslimin bertambah. Selain karena pernikahan dengan warga setempat, dakwah juga terus diserukan. Kaum imigran yang beragama Islam pun terus berdatangan.

Sebagian besar dari mereka merupakan para pengusaha dan pedagang. Tak hanya dari Lebanon, pendatang juga berasal dari Mali, Nigeria, serta Senegal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement