Rabu 02 Jan 2019 14:00 WIB

Meski Minoritas, Muslim Angola Tetap Semangat Berdakwah

Organisasi Islam memainkan penting dalam syiar Islam

Suasana kehidupan Muslim di Angola.
Foto: daylife.com
Suasana kehidupan Muslim di Angola.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Islam baru dikenal di Angola pada 1990-an. Sejarah mencatat, imigran Afrika Barat dan imigran gelap dari Kongo memasuki Angola karena tertarik dengan tambang berlian di sana. Angola memang terkenal kaya akan berlian. Pada 2006, negara ini mengantongi 1,1 miliar dolar AS dari penjualan berlian. 

Tak hanya terpikat oleh berlian, para imigran tertarik pindah ke Angola karena melihat peningkatan ekonomi negara tersebut. Kehadiran para imigran Muslim tersebut menjadi pintu gerbang bagi Angola untuk mengenal Islam.

Selama dijajah  Portugis, Angola menjadi tempat penyebaran agama Kristen. Tak ada celah sedikit pun bagi Islam masuk. Selama berabad-abad, kawasan Angola dan sekitarnya, seperti Kongo, telah menjadi bagian dari kerajaan Kristen.

Islam pun sulit menembus fondasi Kristenisasi di kawasan tersebut. Padahal, agama akhir zaman ini telah dikenal di benua Afrika sejak era Rasulullah. Bahkan, sebagian negara Afrika termasuk dalam kawasan Timur Tengah, sebuah kawasan di mana Islam tumbuh dan berkembang pesat.

Meski masih sangat minoritas, kaum Muslimin di Angola tak patah semangat dalam beribadah dan menyebarkan Islam. Hasilnya, cukup banyak warga asli Angola yang kemudian memeluk Islam. Kehadiran organisasi Islam mengambil peran penting dalam upaya penyebaran agama Allah ini.

Tahun 2002 menjadi tonggak awal bagi kaum Muslimin untuk melebarkan sayap dakwah mereka di Angola. Sejak tahun itu, ekspansi Islam bergerak cepat. Banyak warga asli Angola menjadi Muslim. Sebagian besar Muslimin pun hidup berkecukupan. Sebagai agama baru, Islam dinilai sangat cepat berkembang di negara ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement