Sabtu 23 Aug 2014 08:12 WIB

Theosofi: Warisan Penjajahan (2)

Helena Petrovna Blavatsky (kiri) dan Kolonel Henry Steel Olcott, Presiden Theosofi pertama.
Foto: Wikipedia.org/ca
Helena Petrovna Blavatsky (kiri) dan Kolonel Henry Steel Olcott, Presiden Theosofi pertama.

Oleh: Susiyanto*

Ada juga publikasi Theosofi yang menggunakan Bahasa Melayu, Inggris dan Belanda. Selain berbahasa Jawa, Kitab Makrifat juga diterbitkan dalam Bahasa Melayu.

Ada juga majalah “Pewarta Theosofie”, Majalah “Theosofie di Hindia Belanda”, dan sebagainya.

Di era penjajahan itu, marak pula masuknya media Theosofi berbahasa asing, seperti Theosofische Maandblad, De Pioner, The Theosophist, Theosophia, The Adyar Bulletin, The Herald of Star, dan Zeithchriftfur Parapsychologie.

Ketika itu, Theosofi mencoba menarik perhatian sejumlah kalangan, baik warga bumi-putera maupun bangsa asing. (Lihat Majalah “Theosofie di Hindia Belanda”. Tahun ke– 32 No. 4/ April 1939. (NITV, Batavia Centrum).

Adapun Babad Theosofie ditulis pada 1815. Buku beraksara Jawa ini diterbitkan dalam rangka peringatan 40 tahun berdirinya Perhimpunan Theo sofi. Buku ini pun memberikan sanjungan pada dua tokoh yang aktif mengembangkan ajaran Theosofi yaitu Kolonel Henry Steel Olcott dan Helena Petrovna Blavatsky (biasa disingkat HPB).

Kolonel Henry Steel Olcott (1832-1907) adalah mantan tentara Amerika yang kemudian bekerja sebagai lawyer. Ia adalah presiden pertama Theosofi yang menjabat selama 32 tahun.

Olcott merupakan anggota Freemasonry. Sedangkan Helena Petrovna Blavatsky (1831-1891) adalah wanita berdarah Yahudi dan aristokrat Rusia yang berkecimpung dalam dunia occultisme sejak masih remaja.

Kedua tokoh Theosofi itu ditulis sebagai: “para minulya ingkang darajadipun wonten sanginggiling manungsa” (golongan orang mulia yang derajadnya berada di atas manusia).

Theosofi adalah kelompok yang secara halus menyingkirkan agama, meskipun banyak memanfaatkan dalil dan ritual agama. Namun, pada akhirnya agama dianggap tidak penting untuk menjadi titik pertemuan dalam persaudaraan manusia.

Babad Theosofie, misalnya, menggambarkan proses ini secara nyata dalam proses pendidikan anak sejak dini sesuai dengan salah satu cita-cita Theosofi yaitu ambudi pamredining lare, boten mawi gepokan agami... (mengusahakan pendidikan anak-anak dengan mengabaikan persentuhan dengan agama).

Agama dalam pandangan ini ditempatkan bukan sebagai kebenaran absolut sehingga dalam mempelajari agama masing-masing, anggota Theosofi diharapkan tidak menganggap ajaran agamanya paling benar. Kebenaran juga ada pada agama lain yang bisa dihayati.

Babad Thesofie mengungkapkan proses ini dilakukan dengan menganjurkan agar warganya bukan sekadar melakukan kajian pendalaman terhadap agama yang dianut oleh masing-masing anggotanya melainkan juga melakukan proses perbandingan dengan agama lain, agar tidak menganggap hanya agamanya sendiri yang benar.

*Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun-Bogor

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement