Selasa 25 Aug 2026 22:17 WIB

Gus Yahya Soroti Tantangan NU Jelang Muktamar ke-35

Masa depan NU dinilai membutuhkan konsolidasi organisasi sekaligus posisi yang jelas.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya (tengah) dalam acara Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU di Yayasan Talibuana Nusantara, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2026). Ia menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi NU dalam menentukan arah masa depan.
Foto: Dok. Republika
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya (tengah) dalam acara Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU di Yayasan Talibuana Nusantara, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2026). Ia menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi NU dalam menentukan arah masa depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akan berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Menjelang helatan akbar warga Nahdliyin tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi NU dalam menentukan arah masa depan.

Tantangan tersebut antara lain perubahan identitas ke-NU-an, konsolidasi organisasi, posisi NU dalam politik nasional, hingga peran di tingkat global. Hal itu disampaikan Gus Yahya dalam acara Bincang-Bincang Menjelang Muktamar Ke-35 NU: NU Masa Depan dan Masa Depan NU di Yayasan Talibuana Nusantara, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (24/8/2026).

Baca Juga

Gus Yahya mengatakan pembahasan mengenai masa depan NU harus diawali dengan pertanyaan mendasar mengenai definisi NU. Menurut dia, identitas NU pada generasi awal relatif mudah dikenali meski tidak dirumuskan secara eksplisit.

"Kalau zaman generasi awal dulu mungkin lebih mudah, walaupun tidak dirumuskan secara eksplisit, orang dengan mudah menandai NU itu apa," ujar Gus Yahya dalam siaran pers yang diterima pada Selasa (25/8/2026).

Menurut Gus Yahya, kini terdapat dua fenomena yang membuat batas-batas ke-NU-an semakin cair. Pertama, batas sosial dan kultural antara warga NU dan bukan NU telah mengalami perubahan signifikan. Ia mencontohkan wacana Gus Dur pada 1980-an mengenai pesantren sebagai subkultur yang kini dinilai tidak lagi memiliki batas sosial dan kultural yang tegas.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi