Selasa 15 Sep 2026 21:41 WIB

Tartil Alquran dalam Isyarat Oleh Penyandang Disabilitas Rungu, Perdana di MTQ Nasional ke-31

Gerak isyarat menjadi sentral pelafalan Alquran oleh penyandang disabilitas rungu.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nashih Nashrullah
Ekshibisi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI cabang Tartil Alquran Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Foto: Republika/ Kamran
Ekshibisi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI cabang Tartil Alquran Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli di Kota Semarang, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Melafalkan ayat suci Alquran menggunakan bahasa isyarat adalah kelebihan yang dimiliki kalangan disabilitas rungu.

Kemampuan mereka ditampilkan secara perdana dalam ekshibisi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI cabang Tartil Alquran Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli di Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Baca Juga

Berbeda dengan perlombaan MTQ yang pada umumnya menonjolkan kehikmatan dan kemerduan lantunan suara, pada tartil Alquran disabilitas netra, gerak isyarat menjadi sentral pelafalan.

Dalam MTQ Nasional XXXI, sejumlah peserta dari berbagai daerah mengikuti ekshibisi cabang Tartil Alquran Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli.

“Menang ataupun tidak bukan masalah, yang terpenting semangat Alquran,” ungkap Aisyah Syerviyah, anggota Kafilah Provinsi Jawa Timur yang mengikuti Tartil Alquran Isyarat di MG Setos Hotel Semarang, Selasa (15/9/2026).

Aisyah, diwakili pendamping kafilah, Innik Hikmatin, mengaku menjalani lima kali latihan sebelum tampil di MTQ Nasional.

Terdapat dua metode dalam pelafalan Alquran menggunakan isyarat, yakni kitabah dan tilawah. Aisyah mengatakan, dia melatih kemampuannya di Balai Disabilitas. Jari, telapak, dan posisi tangan menjadi bahasa untuk menyampaikan ayat.

Azaroby Dwi Anggoro, anggota Kafilah Provinsi Banten, turut mengikuti ekshibisi Tartil Alquran Isyarat.

Dia mengaku sempat gugup ketika harus di hadapan banyak orang. “Ada deg-degan sedikit, grogi juga ada, sampai keringetan," kata Azaroby, seusai tampil dan turun dari mimbar tilawah. 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi