REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Babak baru sanksi Amerika Serikat terhadap Iran membuka fase tekanan ekonomi yang lebih luas.
Washington tidak lagi hanya menargetkan Teheran secara langsung, tetapi juga memburu negara, bank, dan perusahaan yang masih menyediakan jalur perdagangan dan pembiayaan bagi perekonomian Iran.
Tujuannya adalah membuat biaya berhubungan dengan Iran menjadi lebih besar daripada keuntungan ekonominya.
Operasi yang diumumkan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan nama “Operasi Pengucilan Ekonomi” memperluas cakupan sanksi sekunder.
Kebijakan ini mengancam pihak-pihak yang memfasilitasi perdagangan dengan Iran atau memindahkan dana untuk negara tersebut dengan kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar.
Pada saat yang sama, sekitar 60 individu dan entitas serta kapal yang terkait dengan sektor minyak, program nuklir, dan program rudal Iran turut menjadi sasaran.
Washington juga memperketat pembatasan terhadap sejumlah jalur yang digunakan Teheran untuk mengakses aset digital, emas, teknologi, penerbangan, dan pelayaran.
Dikutip dari Aljazeera, Selasa (25/8/2026), Menteri Keuangan AS Scott Bessent merangkum tujuan tersebut dengan mengatakan bahwa Washington ingin “memutus setiap urat nadi ekonomi” yang membuat rezim Iran tetap terhubung dengan dunia.