REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Tanah Suci, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia mulai mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Baitullah, melainkan perjalanan suci untuk membersihkan hati, memperkuat tauhid, dan menyucikan jiwa dari berbagai noda dosa serta penyakit batin.
Karena itu, seluruh rangkaian ibadah haji sejatinya merupakan manifestasi dari salah satu misi terbesar dakwah Nabi Muhammad SAW, yaitu membimbing manusia menuju kehidupan yang suci lahir dan batin melalui akidah salimah, ibadah sahihah, dan akhlakul karimah.
Demikian disampaikan Ustaz Ahmad Zuhdi sebagai Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Sektor 3 Mekkah. Ia menyampaikan bahwa salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyucikan kehidupan umat manusia. Misi penyucian ini tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lahiriah, tetapi juga menyangkut penyucian akidah, hati, akhlak, pemikiran, dan tata kehidupan manusia secara menyeluruh.
Rasulullah SAW hadir untuk mengangkat manusia dari kegelapan syirik menuju tauhid, dari kejahilan menuju ilmu, dari kerusakan moral menuju kemuliaan akhlak, dan dari kehidupan yang dipenuhi kelaliman menuju kehidupan yang dipenuhi keadilan serta kasih sayang. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS Al Jumuah Ayat 2).