Jumat 08 May 2026 10:21 WIB

Bimbingan Haji dari Imam Ghazali

Ibadah haji merupakan salah satu fondasi agama Islam.

Kabah di Masjidil Haram, Makkah (ilustrasi).
Foto: dok Republika
Kabah di Masjidil Haram, Makkah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan hanya Ihya Ulum ad-Din, Imam Ghazali (1058-1111) juga menghasilkan banyak karya lainnya yang mencerahkan umat Islam. Dalam konteks bimbingan ke Tanah Suci, misalnya, ada satu buah penanya: Asraf al-Hajj.

Melalui kitab itu, sosok berjulukan "Sang pembela Islam" (Hujjatul Islam) tersebut menyajikan sudut pandangnya mengenai ibadah haji.

Baca Juga

Dalam Asraf al-Hajj, Imam Ghazali menjelaskan, sesungguhnya haji adalah salah satu fondasi Islam. Inilah ibadah seumur hidup yang sekaligus menjadi simbol kesempurnaan agama seseorang.

Menurut dia, keutamaan ibadah haji sangatlah mulia. Tanpa melaksanakannya, kesempurnaan agama akan hilang. Bahkan, seorang Muslim yang mampu berhaji tetapi justru meninggalkannya dapat disejajarkan dengan kaum Yahudi atau Nasrani. Sebab, mereka sama-sama tersesat.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang mati dan belum sempat berhaji, padahal dia mampu, maka hendaklah dia mati sebagai Yahudi atau Nasrani.”

Dalam Asraf al-Hajj, Imam Ghazali mengungkapkan beberapa hal yang makruh dilakukan jamaah haji di Tanah Suci. Misalnya, menetap atau tinggal di Kota Makkah.

Menurut sang Hujjatul Islam, para ulama menghukumi makruh hal itu karena tiga alasan yang mendasar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement