REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jauh sebelum menerima risalah kenabian, Nabi Muhammad SAW telah dikenal sebagai sosok muda yang sukses dalam dunia perdagangan. Keberhasilannya tidak hanya bertumpu pada kepiawaiannya berbisnis, melainkan juga tingginya integritas. Bahkan, orang-orang menjulukinya sebagai Sosok Tepercaya atau al-Amin. Sifat amanah inilah yang kemudian menarik perhatian Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar terpandang, yang kelak menjadi istrinya.
Dalam buku karya Afzalurrahman berjudul Nabi Muhammad Sebagai Seorang Pedagang, dijelaskan perikehidupan Rasulullah SAW tatkala masih menjadi seorang pebisnis.
Sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad SAW menjalankan usaha dagang sebagai agen ke berbagai wilayah, termasuk Syam. Dalam setiap perjalanan, beliau selalu memperoleh keuntungan yang bahkan melampaui ekspektasi. Ini pun terjadi tatkala beliau menjalankan kerja sama bisnis dengan perusahaan milik Khadijah.
Kejujuran dan profesionalitasnya membuat Khadijah menilai bahwa tidak ada agen lain yang mampu menandingi kinerja Muhammad SAW. Dari kekaguman atas akhlak itulah, tumbuh rasa cinta, yang pada akhirnya berujung pada pernikahan.
Kisah ini menunjukkan bahwa kunci keberhasilan dalam perdagangan terletak pada kejujuran, keadilan, dan amanah. Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya membawa keberkahan secara materiel, melainkan juga membangun kepercayaan yang menjadi fondasi hubungan jangka panjang.
Berkah kejujuran
Ada kisah lain yang menunjukkan betapa luar biasanya cara Muhammad SAW dalam menjalankan usaha. Sebagai pedagang, beliau selalu menerapkan kejujuran.
Sifat mulia itu, bagaimanapun, kerap menjadi sasaran kedengkian beberapa saudagar Quraisy Makkah. Mereka merasa berang kepada Muhammad SAW.
Bagi mereka, dagang ya dagang. Jujur? Itu lain soal. Yang penting bagi mereka adalah mendulang untung sebanyak-banyaknya sembari menyingkirkan pesaing di pasar.




