Rabu 25 Mar 2026 14:53 WIB

Menikmati Blues Ala Gurun Lewat Sawt

Musik ini umumnya dibawakan seorang penyanyi bergitar Arab bersenar enam.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Musik Sawt
Foto: sawt-alamal
Musik Sawt

REPUBLIKA.CO.ID, Jika berkesempatan naik taksi di Doha, Qatar, penumpang kemungkinan akan mendengar alunan musik khas Arab dari stasiun radio Sawt al-Khaleej Radio yang dijuluki “Voice of the Gulf” ini menjadi salah satu medium utama yang memperkenalkan musik tradisional Teluk yang dikenal sebagai Sawt.

Musik Sawt kerap disandingkan dengan blues di Amerika Serikat (AS). Keduanya sama-sama mengusung nuansa emosional yang kuat, dengan lirik yang berbicara tentang kerinduan, cinta, kesedihan, hingga doa kepada Tuhan. Bahkan tanpa memahami bahasa Arab, pendengar dari luar kawasan tetap dapat merasakan kedalaman emosi yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga

Sejarah mencatat, Sawt muncul pada akhir abad ke-19 dan dipelopori oleh seniman Kuwait, Abdallah al-Faraj. Setelah wafatnya pada 1903, para penerusnya mengembangkan musik ini seiring masuknya teknologi rekaman komersial ke kawasan Teluk. 

Memasuki abad ke-20, Sawt berkembang pesat melalui rekaman, pengajaran, dan pertunjukan. Musik ini umumnya dibawakan oleh seorang penyanyi yang memainkan gitar Arab bersenar enam, diiringi alat musik perkusi kecil bernama mirwas atau marawis. Dalam praktiknya, Sawt tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga pengalaman kolektif—penonton ikut bernyanyi, bertepuk tangan, bahkan menari mengikuti irama.

Pertunjukan Sawt secara tradisional digelar dalam majelis atau pertemuan privat, biasanya dihadiri kaum pria. Dalam suasana tersebut, batas antara pemain dan penonton nyaris hilang. Lagu dimulai dengan pembuka instrumental, lalu diikuti pengulangan frasa pendek yang sarat makna puitis.

photo
Musik Sawt - (aramcoworld.com)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement