Senin 09 Mar 2026 14:53 WIB

Idul Fitri 2026 Diprediksi Berbeda, Kemenag: Lebaran Diperkirakan Tanggal 21 Maret

Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri jatuh 20 Maret 2026.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Petugas Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta mengamati penampakan hilal guna menetapkan 1 Ramadhan 1447 H di Monumen Nasional (Monas, Jakarta, Selasa (17/2/2026).  Berdasarkan pantauan di Monas,  Petugas Kanwil Kemenag DKI Jakarta menyatakan posisi hilal belum memenuhi syarat mabims karena di bawah ufuk.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Petugas Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta mengamati penampakan hilal guna menetapkan 1 Ramadhan 1447 H di Monumen Nasional (Monas, Jakarta, Selasa (17/2/2026). Berdasarkan pantauan di Monas, Petugas Kanwil Kemenag DKI Jakarta menyatakan posisi hilal belum memenuhi syarat mabims karena di bawah ufuk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penentuan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pada 2026 diperkirakan kembali berbeda antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam, khususnya Muhammadiyah. Perbedaan tersebut diprediksi terjadi sebagaimana pada penetapan awal Ramadhan tahun ini.

Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri akan jatuh pada 20 Maret 2026. Sementara pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memperkirakan hari raya Idul Fitri kemungkinan berlangsung sehari setelahnya.

Baca Juga

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, memperkirakan lebaran Idul Fitri tahun ini jatuh pada 21 Maret 2026.“Diperkirakan lebaran tanggal 21,” ujar Arsad kepada Republika, saat ditemui usai diskusi di Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Arsad menjelaskan, perkiraan tersebut didasarkan pada perhitungan hisab mengenai posisi hilal pada 29 Ramadhan 1447 H. Menurut dia, ketinggian hilal di Indonesia saat itu diperkirakan masih berada pada kisaran yang belum memenuhi kriteria visibilitas hilal menurut standar MABIMS.

photo
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat - (Dok Kemenag)

“Kalau berdasarkan hitungan hisab, ketinggian hilal itu sekitar 0 sampai 3 derajat. Yang tertinggi itu ada di Aceh. Kemudian untuk elongasi sekitar 4 sampai 6 derajat,” ucapnya.

Ia menjelaskan, meskipun dari sisi ketinggian ada wilayah yang mendekati syarat, namun dari sisi elongasi masih belum memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam kriteria imkanur rukyat yang digunakan negara-negara anggota MABIMS.

“Di ketinggian mungkin memenuhi, tapi dari sudut elongasi itu masih kurang, karena kalau kriteria imkanur rukyat versi MABIMS itu 6,4 derajat. Jadi kalau berdasarkan kriteria visibilitas hilal MABIMS memang masih tidak mungkin untuk bisa dilihat,” katanya.

Meski demikian, Arsad menegaskan bahwa keputusan resmi mengenai penetapan 1 Syawal tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar oleh pemerintah.“Keputusan akhir tetap nanti kita menunggu hasil sidang isbat yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 Maret,” jelas Arsad.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement