Rabu 18 Feb 2026 10:36 WIB

Perbedaan 1 Ramadhan Bentuk Ijtihad, Haedar Nashir Ajak Umat tak Perlu Saling Menyalahkan

Jika belum punya satu kalender tunggal, umat Islam akan terus mengalami perbedaan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan refleksi Isra Miraj 1447 Hijriah.
Foto: Wulan Intandari/ Republika
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan refleksi Isra Miraj 1447 Hijriah.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan puasa sebagai momentum perekat sosial di tengah potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Haedar meminta agar umat Islam menyikapi perbedaan tersebut dengan cerdas dan "tasamuh". "Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,"kata Haedar dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (18/2/2026).

Baca Juga

Menurut Haedar, jika umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal, kemungkinan besar akan terus terjadi perbedaan untuk penetapan hari-hari besar Islam. Ia menegaskan, perbedaan harus disikapi secara arif dan bijaksana.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Menurut dia, tujuan utama puasa adalah meningkatkan takwa, baik secara pribadi maupun kolektif, sehingga umat Islam perlu memfokuskan diri pada substansi ibadah.

Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap relasi sosial kemasyarakatan semakin baik, dengan menebarkan kebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta. Ia mengingatkan agar berbagai urusan tidak sampai mengganggu tujuan utama puasa untuk mencapai ketakwaan.

photo
Muhammadiyah di Kota Bandung Menjalankan Salat Tarawih Perdana Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Raya Mujahidin, Jalan Sancang pada Selasa (17/2/2026). - (Ferry Bangkit/ Republika)

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement