REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pemerintah telah menetapkan awal Ramadhan 2026 jatuh pada Kamis (19/2/2026). Namun, sebagian umat Islam lainnya akan melaksanakan puasa Ramadhan mulai Rabu (18/2/2026) besok.
Dengan perbedaan awal Ramadhan tahun ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Anwar Iskandar mengimbau kepada umat Islam untuk saling menghormati. Menurutnya, keutuhan umat Islam itu harus senantiasa dijaga bersama.
"Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati, bahkan kalau perlu kita sebagai bangsa yang demokratis ini perlu membiasakan diri untuk berbeda, untuk berbeda asal jangan soal prinsipil saja, asal jangan soal aqidah saja, asal jangan soal qoth’i saja," ujar Kiai Anwar dalam konferensi pers usai Sidang Isbat di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026) malam.
Ia menjelaskan, pengumuman yang disampaikan Kementerian Agama (Kemenag) terkait awal Ramadhan 2026 akan menjadi pedoman bagi umat Islam di Indonesia. Menurutnya, perbedaan sudah biasa terjadi di Indonesia, termasuk dalam amaliyah ubudiyah. Karena, di Indonesia ada lebih dari 80 ormas Islam.
"Tetapi perbedaan itu hanyalah menyangkut masalah-masalah yang sifatnya ijtihadi, yang sifatnya teknis. Secara qoth’i tidak beda," ujar Kiai Anwar.
"Oleh karena itu, kemungkinan adanya memulai puasa atau mengakhiri puasa berbeda itu menjadi sebuah keniscayaan yang bisa kita pahami, yang bisa kita maklumi," katanya.
Ia menjelaskan, perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjadi sebuah harmoni yang indah dan itu juga akan menjadi sesuatu yang penting bagi persatuan Indonesia.
"Dan persatuan Indonesia itu menjadi bagian penting dari terciptanya stabilitas nasional, dan stabilitas nasional itu menjadi sesuatu yang sangat penting bagi memungkinkan kita semuanya, terutama pemerintah dan rakyat, untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi masa depan bangsa kita sekalian," jelas Kiai Anwar.




