Rabu 18 Feb 2026 08:42 WIB

Para Astronom Dunia Kritik Penetapan 1 Ramadhan di Arab Saudi, Benarkah Ikuti Metode Hisab?

SAASST memprediksi Ramadhan seharusnya baru dimulai pada Kamis.

ILUSTRASI Suka cita menyambut bulan suci Ramadhan
Foto: pxhere
ILUSTRASI Suka cita menyambut bulan suci Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID,JEDDAH — Seperti tahun-tahun sebelumnya, umat Islam dari berbagai belahan dunia menghadapi perbedaan dalam penetapan awal bulan suci Ramadhan 1447 H. Arab Saudi bersama sejumlah negara Teluk resmi memulai ibadah puasa pada Rabu (18/2/2026). Sementara itu, mayoritas negara Muslim lainnya, termasuk Indonesia dan Mesir, baru akan mengawali Ramadhan pada Kamis (19/2/2026).

Otoritas Arab Saudi menyatakan pada Selasa (17/2/2026) malam bahwa tim terkait telah berhasil memantau hilal. Pengumuman ini segera diikuti oleh Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, Yaman, Afghanistan, dan Palestina. Otoritas keagamaan Sunni di Irak dan Lebanon juga menetapkan awal Ramadhan pada hari yang sama.

Baca Juga

Deretan negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Turki, Mesir, hingga Oman, mengumumkan awal Ramadhan jatuh pada Kamis (19/2/2026). Otoritas setempat memutuskan, hilal tidak terlihat di wilayah mereka. Hal senada juga berlaku bagi komunitas Muslim di Singapura, Jepang, Prancis, dan Australia.

Middle East Eye melaporkan, penetapan Arab Saudi tahun ini menuai sorotan tajam dari kalangan ilmuwan. Selama bertahun-tahun, Arab Saudi sering melaporkan keberhasilan rukyatul hilal pada hari-hari di mana para astronom bersikeras bahwa hilal secara ilmiah mustahil untuk dilihat.

Di UEA, Sharjah Academy for Astronomy, Space Sciences and Technology (SAASST) sebelumnya menyatakan bahwa mustahil secara sains untuk melihat hilal pada Selasa malam (17/2), bahkan dengan teknologi terbaru sekalipun. SAASST memprediksi Ramadhan seharusnya dimulai pada Kamis.

photo
Hilal, ilustrasi - ()

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement