Jumat 09 Jan 2026 06:37 WIB

Pasukan Siber Iran “Hanzala” yang Paling Ditakuti Israel dan Jadikan Zionis Pecundang

Hanzala mampu membobol data pribadi elite Israel.

Hacker beraksi (Ilustrasi)
Hacker beraksi (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM— Konfrontasi antara Israel dan Iran tidak lagi terbatas pada arena politik dan keamanan tradisional, tetapi telah berpindah dengan kuat ke ruang siber, di mana perang tersembunyi yang semakin memanas berlangsung secara diam-diam.

Nama kelompok peretas Iran "Hanzala" muncul, yang dalam waktu singkat berubah dari pelaku digital dengan pengaruh terbatas menjadi pemain utama dalam pertempuran peretasan dan kebocoran yang melibatkan tokoh-tokoh Israel tingkat tinggi.

Baca Juga

Pada awalnya, "Hanzala" diklasifikasikan sebagai kelompok peretas baru yang berfokus pada peretasan simbolis dan kampanye propaganda terbatas, tanpa menimbulkan kerusakan strategis yang nyata.

Sukses besar

Namun, deskripsi ini berubah drastis setelah mereka berhasil meretas ponsel dan data pribadi para politisi Israel senior, terutama mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, dan Tzachi Braverman, Kepala Staf Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

“Hanzala” mengungkap komunikasi dan korespondensi yang memalukan, serta meretas ponsel tokoh-tokoh lain di lingkaran pengambil keputusan.

Peretasan tersebut mencakup telepon Yinon Magal, pembawa acara di saluran 14 dan orang dekat Netanyahu, di mana postingan-postingan yang menentang perdana menteri dipublikasikan melalui akunnya di aplikasi Telegram.

Sebelumnya, akun Ron Prosor, duta besar Israel untuk Jerman, diretas, yang mengakibatkan puluhan ribu emailnya terungkap. Pada Oktober 2024, email yang diduga milik mantan perdana menteri Ehud Barak bocor.

photo
Hacker (Ilustrasi) - (Flickr)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement