Jumat 27 Mar 2026 18:10 WIB

Kisah Perempuan Pemintal Benang

Alquran surah an-Nahl ayat ke-92 menyebut perumpamaan tentang hal sia-sia.

ILUSTRASI Kisah pemintal benang
Foto: pxhere
ILUSTRASI Kisah pemintal benang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada zaman Jahiliyah, hiduplah seorang perempuan di Jazirah Arab bernama Rithah. Wanita ini telah sampai pada usia pantas untuk menikah. Namun, rupanya tanda-tanda datangnya jodoh belum tampak jua.

Umar al-Mahzum, ayahanda si gadis, sudah berupaya maksimal untuk menemukan seorang lelaki yang bersedia menikah dengan putrinya itu. Akan tetapi, tidak ada seorang pemuda pun yang datang untuk melamar.

Baca Juga

Suatu hari, ibunda Rithah itu menemui semua ahli nujum di Makkah. Suatu kali, datanglah ia pada seorang dukun dengan membawa belasan batang emas. Dibujuknya si dukun agar mau "membaca" masa depan putrinya.

Lalu si tukang nujum menyatakan, dalam waktu dekat Rithah akan menikah dengan seorang pemuda. Si calon suami akan datang pada malam bulan purnama.

Kabar itu tentu menggembirakan seisi rumah. Namun, purnama demi purnama berlalu. Si pria yang dijanjikan kedatangannya oleh si peramal tak kunjung datang.

Pada suatu hari, seorang kerabatnya dari Bani Tamim datang. Mereka ditemani seorang pemuda bernama Sukhr.

Beberapa hari usai perjumpaan pertama itu, Sukhr datang lagi dengan maksud melamar Rithah. Betapa senangnya hati perempuan itu.

Keesokan paginya, Rithah pun tawaf di sekitar Ka’bah dan bersimpuh di kaki berhala setempat. Tak cukup dengan itu, ia juga menyembelih beberapa unta sebagai bentuk rasa syukur.

Hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Usai akad, resepsi pernikahan berlangsung meriah. Sejak momen itu, Rithah memulai peran barunya sebagai istri.

Beberapa bulan kemudian, Sukhr menyatakan rencananya pergi ke Syam untuk berdagang. Lelaki itu lantas meminta uang dalam jumlah yang banyak kepada Rithah. Katanya kepada sang istri, dana itu akan dipakai untuk mempersiapkan kafilah pengangkut barang-barang.

Dan, sang suami berjanji akan kembali dalam waktu dua bulan. Tanpa curiga sedikit pun, Rithah menyanggupi keinginan suaminya itu.

Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Ternyata, Sukhr tidak kunjung pulang.

Rithah bertanya kepada setiap saudagar yang baru saja datang dari Syam. Namun, jawaban mereka mengejutkannya. “Sukhr tidak pernah pergi dengan kafilah mana pun,” kata orang-orang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement