REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS mendengar pintu rumahnya diketuk. Sesudah membuka pintu, rasul berjulukan "sang kekasih Allah" (Khalilullah) itu mendapati seorang tua renta. Dengan ramah orang tua ini memohon izin untuk masuk dan bertamu.
Nabi Ibrahim AS lantas mempersilakan pria renta itu. Memang, sang Khalilullah masyhur sebagai sosok terbuka, menerima siapapun tamu yang datang kepadanya.
Ibrahim AS cepat mafhum bahwa tamunya itu menginginkan makanan. Maka ia meminta waktu sejenak kepada sang tamu agar dirinya dapat mempersiapkan masakan.
Beberapa saat kemudian, Ibrahim AS keluar dari dapur dan menyuguhkan sajian hangat di atas meja. Sang tamu melihat makanan yang tersaji itu tanpa berkedip. Tersirat harapan untuk mengisi perutnya dengan santapan yang lezat.
Sebelum mempersilakan makan, Nabi Ibrahim AS bertanya kepada orang tua itu, "Wahai Tuan, apakah engkau mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah?"
Orang tua itu terkejut. Ia lalu mengungkapkan kepada sang tuan rumah perihal agama yang diyakininya. "Wahai Tuan, aku adalah orang Majusi. Kurasa, aku tidak sepertimu," katanya, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak seperti sang nabi yang menyembah hanya kepada Allah SWT.
Ibrahim AS tampak kecewa. Dalam pikirannya, kalau ingin menyantap makanan yang disajikannya, maka berimanlah terlebih dahulu kepada Allah.
Jika saja si tamu menjawab iya, maka ia akan mempersilakannya makan. Ternyata, jawabannya berkali-kali adalah tidak.
Dengan halus, Ibrahim AS tidak mengizinkan orang tua Majusi itu untuk menyantap hidangan. Orang tersebut lantas pamit dan keluar dari rumah.




