Rabu 07 Jan 2026 08:27 WIB

Surat Netanyahu ke Putin, Sunyi yang Mematikan, dan Siaga Penuh Iran

Iran memilih tak mempercayai taktik tipu-tipu Israel.

Tentara Israel dan tim penyelamat di tengah puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan rudal Iran di Beersheba, Israel, pada Selasa, 24 Juni 2025.
Foto: AP Photo/Leo Correa
Tentara Israel dan tim penyelamat di tengah puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan rudal Iran di Beersheba, Israel, pada Selasa, 24 Juni 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN—Lembaga Penyiaran Ibrani mengungkap pada Senin (6/1/2026) kemarin, bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—yang dicari oleh Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan melakukan kejahatan perang di Gaza—telah meminta bantuan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyampaikan pesan penegasan kepada Iran bahwa Tel Aviv tidak berniat menyerang negara tersebut.

Hal ini karena khawatir Teheran akan melakukan serangan preventif di tengah protes yang melanda kota-kota di Iran.

Baca Juga

Menurut laporan Lembaga tersebut, pesan ini datang pada saat yang sensitif ketika eskalasi regional bersinggungan dengan ketegangan internal di Iran, yang mendorong Tel Aviv— menurut versi Israel— untuk mencoba meredakan kekhawatiran Iran melalui saluran Rusia.

Sampai sekarang, Teheran belum mengeluarkan tanggapan resmi atas surat ini, baik untuk mengonfirmasi maupun menyangkalnya.

Sementara pihak berwenang Iran tetap berkomitmen pada retorika umum yang menyalahkan AS dan Israel atas kemungkinan eskalasi di kawasan itu, sambil menegaskan kesiapan mereka untuk membela negara.

Garis merah

Di sisi lain, Sekretariat Dewan Pertahanan Iran dalam pernyataannya pada Selasa (6/1/2026) ini mengecam meningkatnya retorika ancaman dan pernyataan campur tangan terhadap negara tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement