REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Keputusan bersejarah pemerintah Lebanon pada 7 Agustus 2025 untuk melucuti senjata Hizbullah dan milisi lainnya di negara itu, serta membatasi kepemilikan senjata hanya untuk Tentara Lebanon dan pasukan keamanan resmi, disambut dengan kemarahan Hizbullah.
N Mozes seorang peneliti di MEMRI menuliskan hasil penyelidikan dan analisisnya yang dipublikasikan laman memri.org pada Kamis (28/8/2025).
Dia menuliskan bahwa Hizbullah segera menyatakan mereka tidak akan menyerahkan senjatanya meskipun harus memicu konflik internal atau perang saudara di Lebanon.
Hizbullah yang mempertanyakan legalitas keputusan tersebut dengan alasan bahwa Konstitusi Lebanon dan Perjanjian Taif keduanya menyetujui tindakannya terhadap Israel, menuduh Perdana Menteri Nawaf Salam dan pemerintahannya melakukan pengkhianatan dan tunduk pada dikte Israel dan Amerika.
Hizbullah menyerukan penggulingan pemerintah, meskipun perwakilan mereka belum mengundurkan diri dan masih memegang posisi di dalamnya.
Dalam pesan-pesannya kepada publik, Hizbullah mencirikan senjata-senjatanya sebagai senjata suci, dan seorang ulama senior Syiah bahkan menyebutnya sebagai senjata Allah.
Video-video yang disebarkan oleh organisasi tersebut di media dan platform media sosialnya menampilkan pidato-pidato mantan pejabat Hizbullah, termasuk mantan sekretaris jenderal organisasi tersebut, Hassan Nasrallah.
Almarhum menggarisbawahi tugas jihad dan kesucian senjata-senjata yang mereka miliki, di antaranya video-video berjudul "Senjata Saya Terlalu Suci untuk Dihilangkan" dan "Kami Tidak Akan Menjadi Pengkhianat dan Tidak Akan Menyerahkan Senjata-Senjata Kami."
BACA JUGA: Smotrich Siap Bangun Bait Suci, Terompet Sangkakala Mulai Ditiup di Masjid Al-Aqsa, Ya Rabb...
Dalam upaya untuk mendapatkan dukungan maksimal dari publik Syiah, para pejabat Hizbullah menggambarkan keputusan pemerintah tersebut sebagai pukulan bagi seluruh sekte Syiah, yang harus ditentang.
Para pejabat ini juga memberikan dimensi historis-religius pada konflik ini dengan membandingkan pemerintah Lebanon dan rival politik Hizbullah dengan khalifah Umayyah kedua, Yazid bin Muawiyah (Yazid I).
