Sabtu 05 Apr 2025 15:20 WIB

Syekh Kelahiran Banten, Gurunya Para Ulama di Tanah Suci

Syekh Nawawi al-Bantani lama mengajar di Tanah Suci, Makkah al-Mukarramah.

Syekh Nawawi al-Bantani, Alimnya Ulama di Tanah Suci (ilustrasi)
Foto: wikipedia
Syekh Nawawi al-Bantani, Alimnya Ulama di Tanah Suci (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897) merupakan salah seorang ulama Nusantara yang karismatik dan berjasa besar. Ia lahir di Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, Jawa Barat. Banyak hasil karyanya yang menjadi rujukan utama berbagai pesantren di Tanah Air, bahkan luar negeri, dari dahulu hingga masa kini.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah al-Mu'thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi. Sejak kecil, Nawawi telah diarahkan ayahnya--KH Umar bin Arabi--untuk menjadi seorang ulama.

Baca Juga

Setelah mendidik langsung putranya, Kiai Umar yang sehari-hari bekerja sebagai penghulu Tanara menyerahkan Nawawi kepada KH Sahal. Kiai Sahal adalah seorang ulama terkenal di Banten.

Usai dari Banten, Nawawi muda melanjutkan pendidikannya kepada ulama besar Purwakarta, Kiai Yusuf. Ketika berusia 15 tahun, ia bersama dua orang saudaranya pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Akan tetapi, setelah musim haji usai, Nawawi tidak langsung kembali ke Tanah Air. Dorongan menuntut ilmu menyebabkan ia bertahan di Kota Suci untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama besar.

Di kiblat umat Islam sedunia itu, Nawawi belajar kepada Imam Masjid al-Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, dan Syekh Ahmad Dimyati. Guru-gurunya yang lain adalah Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani.

Tiga tahun lamanya ia menggali ilmu dari ulama-ulama Makkah. Setelah merasa bekal ilmunya cukup, segeralah ia kembali ke tanah air. Ia lalu mengajar di pesantren ayahnya. Namun kondisi Tanah Air agaknya tidak menguntungkan pengembangan ilmunya.

Saat itu, hampir semua ulama Islam mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Keadaan itu tidak menyenangkan hati Nawawi. Lagipula, keinginannya menuntut ilmu di negeri yang telah menarik hatinya, begitu berkobar. Akhirnya, kembalilah Syekh Nawawi ke Tanah Suci.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement