REPUBLIKA.CO.ID, SAN'A — Angkatan Bersenjata Yaman (YAF) yang dikuasai kelompok bersenjata Houthi mengumumkan, mereka berhasil menembak jatuh pesawat drone MQ-9. Juru Bicara Houthi Brigjen Yahya Saree mengatakan, upaya tersebut dilakukan untuk menghadapi agresi Amerika Serikat yang telah menewaskan dan melukai ratusan warga sipil di seluruh negeri, seperti dilaporkan Al Mayadeen, Kamis (3/5/2025).
Saree menyatakan, pertahanan udara mereka telah berhasil mencegat pesawat Amerika dengan rudal permukaan ke udara yang diproduksi dalam negeri. Pencegatan tersebut menandai penembakan kedua dalam 72 jam dan yang ke-17 sejak peluncuran kampanye "Penaklukan yang Dijanjikan dan Perjuangan Suci" dalam solidaritas dengan Gaza.
Angkatan Bersenjata Yaman menekankan tekad mereka untuk melawan semua upaya musuh yang ingin melemahkan kedaulatan negara. Saree menegaskan bahwa mereka—bersama rakyat Yaman yang hebat—akan terus melakukan operasi mereka untuk mendukung Gaza. Dia menegaskan, operasi ini tidak akan berhenti kecuali agresi terhadap Gaza berakhir dan blokade dicabut.

Sebelumnya, Angkatan Bersenjata Yaman (YAF) dilaporkan berhasil menargetkan pesawat komando dan kontrol E-2 milik kapal induk AS USS Harry S. Truman, sumber senior pemerintah Sana'a mengatakan kepada Al Mayadeen pada Ahad (31/3/2025).
Menurut sumber tersebut, kapal induk itu kehilangan kemampuan komando setelah serangan. Sementara itu, Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) telah meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut.
Pesawat E-2 yang menjadi target Houthi dirancang untuk memberikan informasi intelijen penting tentang potensi ancaman yang dihadapi oleh kapal perang tersebut selama operasi militer. Meskipun tidak secara langsung berpartisipasi dalam serangan, pesawat ini memainkan peran penting dalam pengawasan dan pelacakan.
Pesawat tersebut, yang dioperasikan oleh lima awak—termasuk dua pilot dan tiga spesialis radar—kehilangan perlindungan defensifnya, sehingga lebih rentan terhadap serangan rudal dan pesawat tak berawak Yaman.