Rabu 27 Mar 2024 10:05 WIB

Kemenag Targetkan Peningkatan Kapasitas 22 Ribu Imam Masjid pada 2024

Program ini salah satu upaya menjadikan masjid sebagai pelopor moderasi beragama.

Ustadz Naga (48) pengurus sekaligus imam masjid Lautze Yayasan Haji Karim OEI di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Senin (18/3/2024).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Ustadz Naga (48) pengurus sekaligus imam masjid Lautze Yayasan Haji Karim OEI di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Senin (18/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kementerian Agama (Kemenag) akan melakukan peningkatan kapasitas 22 ribu imam masjid di seluruh Indonesia. Program tersebut sebagai bagian dari Rencana Strategis (Renstra) Kemenag Tahun 2020-2024.

"Sejak 2021, Kemenag telah melakukan peningkatan kapasitas imam masjid sebanyak 5.500 orang, sebanyak 11.000 orang pada tahun 2022, 16.500 orang pada tahun 2023, dan 22.000 orang ditargetkan terlaksana pada tahun 2024," kata Direktur Urais Binsyar Kemenag RI Adib melalui keterangannya di Jakarta, Rabu pagi (27/3/2024).

Baca Juga

 

Adib mengatakan bahwa sasaran pesertanya merupakan imam masjid di Indonesia, yaitu imam masjid raya, masjid agung, masjid besar, masjid jami, masjid bersejarah, dan masjid di tempat publik.

 

"Pada tahun ini kami akan menggelar pelatihan tersebut melalui Massive Open Online Courses (MOOC), kemudian secara hibrid bersama imam Masjid Istiqlal," ujarnya.

 

Menurut Adib, program ini merupakan salah satu upaya menjadikan masjid sebagai pelopor moderasi beragama.

"Kami berharap terjadi revitalisasi peran masjid untuk makin profesional secara pengelolaannya, kian moderat cara pandang dan paham keagamaan seluruh ekosistemnya, juga berdaya dan memberdayakan jamaahnya," katanya.

 

Selain itu, pihaknya juga akan menggencarkan kampanye rintisan masjid ramah pada tahun 2024. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah program bantuan.

 

Adib menjelaskan bahwa masjid ramah adalah masjid (termasuk musala) yang kondisinya memenuhi kriteria dalam lima kategori ramah, baik dilihat dari sisi pola pikir (mindset), keterampilan (skillset), segenap ekosistem, maupun ketersediaan sarana prasarananya (toolset).

 

Lima kategori ramah tersebut adalah ramah perempuan dan anak, ramah difabel dan lansia, ramah lingkungan, ramah keragaman, serta ramah dhuafa dan musafir.

 

"Kami juga sudah memberi bantuan operasional rintisan Masjid Ramah 2024 tahap pertama pada Januari lalu. Bantuan ini hanya untuk dukungan pada sisi toolset (sarana prasarana) saja. Selain tidak besar, sarana-prasarana lebih mudah dilihat sebagai evidence pengukurannya," ujar Adib.

 

Ia berharap dana bantuan operasional tersebut penggunaannya secara optimal untuk mendorong terbentuknya ekosistem masjid, dan meningkatkan derajat keberlanjutan keberagaman masjid.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement