Jumat 02 Feb 2024 16:30 WIB

Para Tokoh Agama Sampaikan Seruan Sadarkan Pemimpin Negara soal Krisis Kemanusiaan

Kemanusiaan adalah hal yang paling mendasar bagi kita sebagai makhluk hidup.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Konferensi pers sesi ASEAN Religious Leaders Summit dalam AICIS 2024 di UIN Walisongo Semarang, Jumat (2/2/2024).
Foto: Republika/Umar Mukhtar
Konferensi pers sesi ASEAN Religious Leaders Summit dalam AICIS 2024 di UIN Walisongo Semarang, Jumat (2/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tokoh-tokoh dari berbagai agama menyampaikan seruan untuk membangkitkan kesadaran para pemimpin negara soal krisis kemanusiaan yang terjadi. Di antaranya adalah konflik Palestina-Israel, Ukraina-Rusia, dan nasib para pengungsi Rohingya.

Tokoh Agama Buddha Indonesia, Prof Philip Kuntjoro Widjaja, menyampaikan, dalam mengatasi krisis keagamaan, agama berperan dari sisi agama. Namun menurutnya, sisi agama ini tidak sekuat sisi kemanusiaan.

Baca Juga

"Kemanusiaan adalah hal yang paling mendasar bagi kita sebagai makhluk hidup," kata dia dalam konferensi pers sesi ASEAN Religious Leaders Summit pada forum Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 Tahun 2024, yang dihelat di UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Jumat (2/2/2024).

Philip menuturkan, para tokoh agama melalui pertemuan forum AICIS 2024 ini menyampaikan satu seruan untuk membangunkan para aktor-aktor politik agar bertindak sebagaimana yang diharapkan.

 

"Dunia tidak seperti apa yang kita bayangkan. Ada konflik yang jauh lebih seram dari yang kita bayangkan. Tapi juga ada tempat yang kita bayangkan seram, padahal sama sekali tidak seram. Ada sebagian yang dipolitisir, direkayasa dengan teknologi informasi sesuai kebutuhan masing-masing dan sebagian lain ditutup-tutupi," katanya.

Sementara itu, tokoh agama Buddha dari Thailand, Phra Dr Anilman Dhammasakiyo, menyampaikan, konflik yang terjadi itu muncul dari keadaan setiap negara, sehingga faktor penyebabnya pun berbeda-beda. Antara lain karena faktor ekonomi, politik, kemanusiaan dan agama. Maka untuk menyelesaikannya bergantung pada kebijakan setiap negara.

Dalam kondisi demikian, para tokoh dari berbagai agama melalui forum AICIS 2024 kali ini membawa gagasan resolusi yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi terkait krisis kemanusiaan demi terwujudnya perdamaian.

Tokoh agama Kristen Indonesia, Rev. A. Elga J. Sarapung menekankan, berbagai krisis kemanusiaan yang terjadi di dunia memerlukan aksi nyata bersama dari para tokoh agama. Tokoh-tokoh agama di setiap negara harus bergandengan dalam menyampaikan seruan maupun resolusi.

"Yang diperlukan adalah action yang konkret. Tidak lagi bisa sendiri-sendiri. Kita harus kerja sama termasuk perempuan laki-laki, bahkan antargenerasi," tuturnya.

Tokoh agama Islam dari Muhammadiyah, Prof Dr Hilman Latief juga mengatakan, AICIS adalah forum di mana para pemimpin agama memiliki satu fokus yang sama dan satu keprihatinan yang sama terkait apa yang terjadi di berbagai belahan dunia.

"Pemimpin agama melalui forum ini menawarkan pikiran untuk bagaimana mmmberikan solusi demi semangat perubahan yang mendorong perdamaian dan juga kerja sama dalam visi-misi kemanusiaan," ujarnya.

Forum AICIS, sebagaimama disampaikan sebelumnya oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, jangan hanya bicara soal teori dan hasil penelitian tapi juga masuk pada ranah bagaimana mempraktikkannya. Teori yang dibawa dari kampus dan dari penelitian apapun itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun narasumber dari para pemuka agama yang menghadiri sesi ASEAN Religious Leaders Summit pada forum Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-23 Tahun 2024, adalah Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Abdul Ghofur Maimoen, Prof. Dr. Hilman Latief (Islam-Indonesia), Prof Philip Kuntjoro Widjaja (Buddha-Indonesia), Dr. I Nyoman Jujur (Hindu-Indonesia), Venerable Dr Yon Seng Yeath (Buddha-Kamboja), YB Datuk Dr Hasan bin Bahrom (Islam-Malaysia), Phra Dr Anilman Dhammasakiyo (Buddha-Thailand), Pdt Gomar Gultom (Kristen-Indonesia), Romo Agustinus Hery Wibowo (Katolik-Indonesia), Rev. A. Elga J. Sarapung (Kristen-Indonesia), WS. Andi Gunawan, ST, CM, NNLP (Konghucu-Indonesia).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement