Sabtu 20 Jan 2024 12:02 WIB

Menhan Jerman Prediksi Rusia akan Serang Negara NATO 

Swedia menghadapi situasi lebih serius mengingat kedekatan geografisnya dengan Rusia.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Ketua Komite Militer NATO Laksamana Rob Bauer memberikan konferensi pers setelah pertemuan Kepala Pertahanan Militer NATO di Brussels, Belgia, (18/1/2024).
Foto: EPA-EFE/OLIVIER HOSLET
Ketua Komite Militer NATO Laksamana Rob Bauer memberikan konferensi pers setelah pertemuan Kepala Pertahanan Militer NATO di Brussels, Belgia, (18/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan, dalam jangka waktu lima hingga delapan tahun mendatang, Rusia dapat menyerang negara anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Hal itu disampaikan ketika NATO diagendakan menggelar latihan militer terbesarnya dalam kurun lebih dari tiga dekade.

“Kami mendengar ancaman dari Kremlin hampir setiap hari. Jadi kami harus memperhitungkan bahwa (Presiden Rusia-red) Vladimir Putin mungkin akan menyerang negara NATO suatu hari nanti," kata Pistorius dalam wawancara dengan surat kabar Der Tagesspiegel yang berbasis di Berlin, Jumat (19/1/2024).

Baca Juga

Dia mengungkapkan, untuk saat ini, serangan Rusia ke negara anggota NATO memang tidak mungkin terjadi. “Tapi, para ahli kami memperkirakan dalam jangka waktu lima hingga delapan tahun hal ini dapat terjadi,” ucapnya.

Pernyataan Pistorius bertepatan dengan peringatan yang dilontarkan Menteri Pertahanan Sipil Swedia Carl-Oskar Bohlin. Bohlin mengatakan, perang bisa terjadi di negaranya yang saat ini masih menunggu persetujuan untuk menjadi anggota NATO.

Pistorius mengatakan kepada Der Tagesspiegel bahwa peringatan Swedia dapat dipahami dari sudut pandang Skandinavia. Menurut Pistorius, Swedia menghadapi situasi lebih serius mengingat kedekatan geografisnya dengan Rusia.

NATO diagendakan menggelar latihan militer terbesar dalam kurun lebih dari tiga dekade pada pekan depan. Sebanyak 90 ribu tentara bakal dilibatkan dalam latihan tersebut.

Panglima Tertinggi Sekutu NATO Eropa, Jenderal Christopher Cavoli, mengungkapkan, latihan tersebut mengusung tema “Steadfast Defender 2024”. Digelar hingga akhir Mei, latihan itu akan melibatkan unit-unit dari 31 negara anggota NATO, plus calon anggota, yakni Swedia.

Latihan tersebut, yang terdiri dari serangkaian latihan individu yang lebih kecil, akan berlangsung dari Amerika Utara hingga sisi timur NATO, dekat perbatasan Rusia. Sebanyak 50 kapal angkatan laut, 80 pesawat, dan lebih dari 1.100 kendaraan tempur bakal dikerahkan selama Steadfast Defender 2024 berlangsung. “Aliansi akan menunjukkan kemampuannya untuk memperkuat kawasan Euro-Atlantik melalui pergerakan kekuatan transatlantik dari Amerika Utara,” ujar Cavoli, Kamis (18/1/2024), dikutip laman i24News.

Terakhir kali NATO menggelar latihan berskala besar adalah pada era Perang Dingin, yakni  1988. Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Rob Bauer, mengatakan Steadfast Defender 2024 merupakan demonstrasi kesiapan baru aliansi tersebut. “Ini adalah rekor jumlah pasukan yang dapat kami bawa dan lakukan latihan dalam jumlah tersebut, di seluruh aliansi, melintasi lautan, dari AS hingga Eropa,” katanya.

Bauer juga memperingatkan, masyarakat sipil di negara-negara anggota NATO perlu lebih mempersiapkan diri menghadapi potensi perang di masa depan dengan Rusia. “Kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa hidup dalam damai dan itulah mengapa kita punya rencana, itulah mengapa kita bersiap menghadapi konflik,” katanya.

“Kami tidak mencari konflik apa pun, namun jika mereka menyerang kami, kami harus siap,” tambah Bauer. Menurutnya, kekuatan darat Rusia telah terdegradasi parah akibat perang di Ukraina.

Namun dia mengakui angkatan laut dan udara Rusia masih memiliki kekuatan cukup besar. Bauer mengatakan, upaya Moskow untuk menyusun kembali pasukannya terhambat oleh dampak sanksi Barat. Kendati demikian, Kremlin masih berhasil meningkatkan produksi artileri dan rudal.

Terkait konflik di Ukraina, Bauer mengatakan bahwa meskipun pertempuran sengit masih terjadi, garis depan 'tidak banyak bergerak'. “Meskipun serangan-serangan terbaru Rusia sangat menghancurkan, serangan-serangan tersebut tidak efektif secara militer,” ujarnya, seraya menyerukan para pendukung Ukraina untuk tidak “terlalu pesimis” terhadap prospek Kiev tahun ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement